MALANG KOTA, RADAR MALANG - Upaya memutus penularan tuberkulosis (TBC) terus dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang. Salah satunya dilakukan melalui skrining. Dari skrining yang digencarkan pada awal tahun sampai Agustus ini, sudah ada 1.800 kasus TBC yang ditemukan.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Malang Meifta Eti Winindar mengatakan, ada peningkatan kasus dibanding Juli lalu. ”Sebelumnya di kisaran 1.200 kasus TBC. Kemudian pada Agustus menjadi 1.800 kasus,” kata dia saat meninjau kegiatan skrining di Kelurahan Tanjungrejo, kemarin (22/8).
Baca Juga: Temukan 400 Kasus Tuberkolosis di Malang, Siap Uji Coba Vaksin
Meifta melanjutkan, setiap tahun pihaknya mendapat target standar pelayanan minimal (SPM) hingga 2.600 kasus TBC yang harus ditemukan dan ditangani. Target tersebut untuk mendukung program eliminasi TBC nasional. Agar eliminasi TBC nasional segera tercapai, Kota Malang melakukan tiga skema.
Meliputi skrining menggunakan teknologi mobile X-Ray yang menyasar 57 kelurahan di Kota Malang. Skema mobile X-Ray menggunakan mobil keliling yang dilengkapi tenaga kesehatan dan alat X-Ray. Hasilnya bisa dibaca langsung oleh AI dalam 5 menit. Penerapannya sudah dilakukan sejak April hingga 31 Agustus mendatang.
Untuk teknisnya, dinkes bekerja sama dengan Stop TB Partnership Indonesia (STPI). ”Untuk yang menggunakan mobil, tersisa lima jadwal lagi di Kelurahan Kedungkandang, Penanggungan, Kasin, Sawojajar, Polehan, dan Kelurahan Klojen,” imbuh dia. Kendati demikian, skrining tidak hanya berhenti dengan mobile X-Ray saja.
Baca Juga: Bulan Ini Deteksi TBC di 153 Titik Wilayah Kota Malang
Ada juga skrining menggunakan X-Ray portable. Skrining itu sudah diterapkan sejak pekan ini. Pelaksanaannya berlangsung selama 10 hari. ”Sudah berjalan di Kelurahan Samaan dan Kelurahan Sukun,” sambung Meifta. Kemudian ada skrining sistematis yang dibarengi dengan cek kesehatan gratis (CKG).
Dalam skema itu, skrining dilakukan dengan menggali gejala-gejala dari orang yang berisiko TBC. Salah satunya orang yang kontak erat atau tinggal serumah bersama penderita TBC. Jika orang masuk kategori suspek TBC, ada pemeriksaan lanjutan. Pemeriksaan itu dilakukan dengan tes dahak.
Lewat skrining sistematis, tidak hanya bisa ditemukan kasus TBC, tapi juga membantu mendongkrak capaian CKG. Kepala Puskesmas Janti Endang Listyowati menambahkan, tiga skema yang diterapkan dinkes itu terbukti bisa melacak orang-orang yang berisiko TBC.
”Sebagai contoh di wilayah kerja Puskesmas Janti sudah ditemukan 23 orang yang positif TBC. Satu di antaranya masih anak-anak,” beber Endang. Jika sudah positif, mereka harus menjalani pengobatan selama enam bulan.
Selama pengobatan, penderita mendapat OAT KDT atau obat anti-TBC kombinasi dosis tetap. Baik dewasa maupun anak-anak. Menik, salah satu warga Kelurahan Tanjungrejo menyampaikan bahwa dirinya mendapat undangan dari kader untuk mengikuti skrining mobile X-Ray.
Sebelumnya dia pernah mengalami TBC. ”Saya ke sini untuk mengantar suami. Karena kami tinggal dalam satu rumah sehingga terjadi kontak erat,” ucapnya. (mel/by)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang