MALANG KOTA, RADAR MALANG – Dari awal bulan sampai menjelang akhir Agustus ini, capaian Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) di Kota Malang sudah 10 persen. Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang Meifta Eti Winindar menyebut bahwa capaian itu belum final.
Target dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI untuk masing-masing vaksin minimal 95 persen. Tahun lalu, Meifta menyebut capaian imunisasi sebesar 90 persen. Untuk tahun ini, dia optimistis bisa mencapai target minimal imunisasi.
Baca Juga: Apotek Puskesmas Ardimulyo Tempati Ruang Imunisasi
Dia juga menegaskan bahwa pemberian imunisasi sangat penting. Tujuannya agar anak-anak bisa terhindar dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).
Setiap tahun, lanjut Meifta, ada kasus-kasus PD3I yang masih ditemukan. ”Termasuk pada 2025 dan 2026. Mulai dari campak, difteri, hingga pertusis,” bebernya. Namun, Meifta mengimbau agar masyarakat tidak hanya fokus dengan jumlah kasus. Baik kasusnya mengalami penurunan maupun peningkatan, masyarakat harus tetap waspada.
Untuk mencegah PD3I, tidak cukup hanya dengan imunisasi. Melainkan juga dengan menjaga pola hidup sehat hingga mengonsumsi makanan bergizi. Kemudian melakukan cek kesehatan gratis baik anak-anak, orang dewasa, maupun lansia.
Baca Juga: 1.400 Anak di Kota Malang Jadi Sasaran Imunisasi Kejar Campak
Terpisah, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jatim Perwakilan V Malang Raya Dr dr Harjoedi Adi Tjahjono SpA(K) menuturkan bahwa animo masyarakat untuk membawa anak-anak imunisasi sudah cukup baik.
Salah satunya dibuktikan dari penghargaan imunisasi yang didapat salah satu rumah sakit karena bisa memberikan imunisasi terhadap banyak anak. Harjoedi menjelaskan, imunisasi sangat penting bagi anak-anak. ”Karena di rumah sakit, terutama rumah sakit tersier selalu ditemukan anak-anak yang dirawat karena PD3I. Hampir setiap minggu ada kasus,” jelasnya.
Dengan imunisasi akan terbentuk kekebalan imun di masyarakat. Selain itu, imunisasi bisa mengurangi tingkat keparahan. Berbeda jika belum mendapat imunisasi. Sebagai contoh pada kasus campak, berpotensi mengalami komplikasi hingga ke otak.
”Kalau sudah imunisasi biasanya tidak komplikasi. Namun tetap perlu istirahat cukup dan menjaga pola hidup bersih agar tidak menulari yang sehat,” tandas dokter spesialis anak konsultan endokrinologi di RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) tersebut. (mel/by)
Editor : A. NugrohoSumber : Radar Malang