
KEPANJEN – Setelah ditemukan bakteri e-coli dalam menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memicu keracunan di sejumlah daerah, pemerintah pusat hingga daerah memperketat pengawasan.
Kemarin (7/9), Staf Khusus Kepala Staf Kepresidenan Alfret Denny Djoike Tuejeh memeriksa sampel makanan di Pendapa Agung Kabupaten Malang.
”Hasil uji menunjukkan ada kandungan formalin sekitar 0,1 mililiter,” ujar Staf Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang Luluk Indri Astuti yang mendampingi rombongan Kantor Staf Presiden (KSP).
Rombongan monitoring MBG tersebut didampingi sejumlah pejabat di Pemkab Malang. Di antaranya Bupati Malang H M. Sanusi, Wakil Bupati Malang Latifah Shohib, Sekda Kabupaten Malang Budiar Anwar beserta beberapa pejabat eselon II.
Luluk menegaskan, indikasi kandungan formalin terlihat saat sampel tahu berubah warna menjadi unggu setelah diberi reagent.
"Kalau tahu tersebut tidak mengandung formalin, seharusnya warna tetap bening,” kata dia. ”Semakin ungu maka kandungannya semakin besar,” tambahnya.
Meski kandungan tersebut tergolong minim, menurut dia tetap berbahaya bagi kesehatan. Apalagi makanan tersebut dikonsumsi anak-anak. ”Formalin sangat berbahaya lantaran zat kimia ini bersifat racun dan karsinogen. Dilarang dan berbahaya,” tandasnya. Jika dikonsumsi secara rutin, lanjutnya, makanan yang mengandung formalin mengganggu kesehatan tubuh.
Selain tahu, petugas menguji saus, mi basah, nugget dan sosis. Hasilnya, saus negatif rhodamin B dan nugget negatif boraks. Sementara hasil pemeriksaan mikrobiologi terhadap mi basah dan sosis masih belum keluar.
Luluk mengatakan, sampel tersebut diambil secara acak dan tidak seluruhnya merupakan bahan yang digunakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Khusus tahu yang terindikasi formalin, sampel dibeli dari salah satu pasar tradisional di Kabupaten Malang.
Editor : Mahmudan