Dokter RSSA Sebut Kondisi Sosial Bisa Memperparah Pasien dengan Keluhan Kesehatan Mental

Nabila Amelia • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 15:04 WIB
Keluhan kesehatan mental bisa diperparah dengan kondisi sosial yang kurang mendukung.
Keluhan kesehatan mental bisa diperparah dengan kondisi sosial yang kurang mendukung.

MALANG KOTA, RADAR MALANG – Problem kesehatan mental dan emosional bisa disebabkan berbagai macam faktor. Bisa karena keturunan atau genetik, riwayat infeksi, trauma kepala akibat benturan keras, hingga penggunaan narkoba. 

Kondisi sosial seseorang cukup menentukan dalam proses penyembuhannya. Bila kurang tepat, kemungkinan buruk bisa terjadi.

Seperti disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang yang juga dokter spesialis kesehatan jiwa dr Ratri Istiqomah SpKJ. 

Ratri menyebut, kondisi-kondisi yang dialami pasien kerap diperparah dengan tidak adanya dukungan dari orang terdekat. Lalu stigma dan bullying. 

”Kondisi sosial yang tidak mendukung juga bisa menjadi pemicu atau trigger. Sebagian orang lantas menjadi tidak terbuka. Mereka memilih memendam masalah,” lanjut Ratri. 

Hal itu pun bisa dialami berbagai macam kelompok usia. Mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Kunjungan pun tidak hanya untuk rawat jalan. Ada yang sampai menjalani rawat inap. 

”Mereka yang rawat inap biasanya yang mengalami kondisi seperti gaduh gelisah hingga berpotensi melukai diri,” tutur Ratri. Jika sudah ada indikasi membahayakan, pasien membutuhkan bantuan dan observasi sesegera mungkin. 

Indikasi lainnya bisa berupa tidak mau makan, tidak mau minum, bahkan enggan merawat diri. Untuk mencegah masalah kesehatan jiwa lebih lanjut, RSSA menggandeng lintas sektor. 

Salah satunya perguruan tinggi, yang umumnya memiliki layanan konseling. Dari layanan konseling itu, ternyata ada mahasiswa yang membutuhkan pendampingan dan rujukan ke rumah sakit. Namun, pihaknya juga tidak menutup kemungkinan rujukan dari masyarakat umum.

Setelah masuk ke rumah sakit, penanganan yang diberikan bergantung kondisi pasien. Ada yang menggunakan terapi obat atau farmakologi. Ada pula yang perawatan. ”Untuk lama pengobatannya tidak tentu. Kalau seperti depresi atau kecemasan rata-rata sekitar 6 bulan,” ucap Ratri. 

Namun jika ada gangguan kepribadian, psikoterapinya memakan waktu bertahun-tahun. Di samping layanan, RSSA juga rutin mengadakan kegiatan promosi kesehatan jiwa dan penyuluhan. Baik kepada pasien, keluarga, maupun masyarakat luas.

Kemudian, RSSA juga memberikan pembekalan kepada para dokter umum di fasilitas kesehatan tingkat pertama. ”Karena pasien dengan masalah kesehatan mental biasanya tidak langsung ke psikiater. Mereka belum sepenuhnya yakin karena gejalanya kadang dirasakan fisik seperti sakit kepala atau sakit perut,” beber Ratri.

Terpisah, Kepala Puskesmas Rampal Claket dr Ali Syahib menyampaikan bahwa pihaknya turut menerima masyarakat yang mengalami kondisi mental tertentu. Misalnya saja orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). 

”Ada juga yang mengeluhkan depresi dan kecemasan,” kata Ali. Kendati demikian, yang datang ke puskesmas biasanya dalam kondisi terkontrol. Sebaliknya jika tidak maka akan dirujuk ke rumah sakit. (mel/by)

 

Editor : Bayu Mulya Putra
dokter spesialis kesehatan jiwa dr ratri istiqomah malang hari ini kesehatan mental rssa malang