Didominasi Usia 12-18 Tahun
KEPANJEN, RADAR MALANG – Belakangan ini, remaja di Bumi Kanjuruhan lebih gampang cemas. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mengungkap adanya peningkatan penderita anxiety disorder alias gangguan kecemasan. Pada 2024 tercatat 527 kasus, kemudian bertambah menjadi 701 kasus pada 2025 (selengkapnya lihat grafis).
Kepala Bidang P2P Dinkes Kabupaten Malang dr Titis Ari Restipilatsih mengatakan, gangguan kecemasan menjadi masalah kesehatan jiwa yang paling banyak ditemukan. Kasus terbanyak berada pada rentang usia 12-18 tahun.
Menurut Titis, peningkatan kasus juga dipengaruhi semakin terbukanya masyarakat mengakses layanan kesehatan jiwa. “Sebelumnya, masyarakat belum terbuka mengakses pelayanan kesehatan bila anggota keluarganya terindikasi gangguan kecemasan,” ujar Titis kemarin.
Gangguan kecemasan pada remaja dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya penggunaan gadget berlebihan atau kecanduan gadget, pola asuh orang tua, lingkungan, serta pengaruh teman sebaya.
Kondisi tersebut sejalan dengan perhatian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terhadap kesehatan mental remaja. WHO menyebut gangguan kecemasan, termasuk gangguan mental yang paling banyak dialami kelompok usia tersebut dan dapat mempengaruhi aktivitas sekolah, kehidupan sosial hingga hubungan dengan lingkungan.
Baca Juga: Dinkes Malang Ungkap 270 Kasus Demam Berdarah, Jumlahnya Berpotensi Bertambah
WHO juga mencatat masa remaja merupakan periode penting dalam perkembangan sosial dan emosional. Tekanan dari teman sebaya, kualitas hubungan keluarga, penga laman buruk, perundungan serta pengaruh media sosial dapat menjadi faktor yang mempengaruhi kesehatan mental remaja.
Penggunaan media sosial juga menjadi perhatian. WHO mencatat penggunaan media sosial yang bermasalah berkaitan dengan sejumlah dampak negatif, termasuk berkurangnya waktu tidur dan memburuknya kesejahteraan mental, serta sosial remaja. Namun, WHO juga menekankan bahwa teknologi digital dapat memberikan manfaat apabila digunakan secara sehat dan terkendali.
Agar jumlahnya dapat di tekan, Dinkes Kabupaten Malang meningkatkan upaya promotif dan deteksi dini kesehatan jiwa yang turut masuk dalam program prioritas Cek Kesehatan Gratis (CKG). Secara nasional, lanjutnya, pelaksanaan CKG juga telah memiliki petunjuk teknis melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/84/2026.
Baca Juga: Deteksi Influenza, Dinkes Kota Malang Kirim Puluhan Sampel ke Surabaya
Layanan kesehatan jiwa tersedia di 39 puskesmas dan enam rumah sakit di Kabupaten Malang. Titis menyebut penguatan peran lintas sektor masih menjadi kendala. Mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, lembaga masyarakat hingga orang tua. Peran tersebut dinilai penting agar gangguan kecemasan dapat dikenali dan ditangani sejak dini. WHO merekomendasikan penguatan lingkungan keluarga, sekolah dan komunitas serta deteksi dan penanganan yang sesuai usia bagi remaja dengan masalah kesehatan mental.
Salah satu penderita Anxiety Disorder, Elok Laily Maskuriyah, 24, mengaku mulai merasakan ada yang salah setelah berminggu minggu mengalami stres akibat hubungan tidak sehat dan burnout.
Kondisinya ditandai insomnia, perubahan nafsu makan, suka menyendiri dan panic attack. “Yang paling berat menyakiti diri sendiri,” kata warga Gondanglegi itu.
Gangguan tersebut membuat Elok kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, sulit fokus dan menarik diri dari lingkungan. Kondisinya semakin berat ketika menghadapi lingkungan yang tidak mendukung.
“Kalau orang lain tahu kondisi saya, mungkin dibilang kurang ibadah. Kurang bersyukur, atau yang lebih parah ada yang menjadikan kondisi saya menjadi lelucon,” tuturnya. Untuk membantu pemulihan, Elok mengurangi penggunaan media sosial dan melakukan aktivitas di luar ruangan. “Dukungan penuh dari keluarga yang membuat saya semangat untuk bangkit dan mendatangi Psikiatri,” katanya.(ram/dan)
Editor : Aditya NovrianSumber : Radar Malang