KEPANJEN, RADAR MALANG – Kasus pneumonia di Kabupaten Malang kembali meningkat sepanjang 2026. Hingga September, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang mencatat 7.045 penderita.
Jumlah tersebut naik 156,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya mencapai 2.744 penderita. Kenaikan itu cukup tajam meski belum kembali menyamai catatan 2024. Pada tahun tersebut, jumlah penderita pneumonia mencapai 12.570 orang. Kondisi pada 2026 menjadi perhatian karena kelompok usia rentan mendominasi catatan Dinkes.
Dari 7.045 penderita, sebanyak 4.630 atau 65,66 persen merupakan balita. Kelompok dewasa berada di urutan berikutnya dengan 1.001 penderita. Kemudian lansia sebanyak 597 orang, anak-anak 547 orang, dan remaja 276 orang.
Tidak hanya jumlah penderita yang menjadi perhatian. Dinkes juga mencatat 299 balita mengalami pneumonia berat hingga membutuhkan perawatan inap di rumah sakit.
Kondisi tersebut menunjuk kan pentingnya pengenalan gejala sejak dini, terutama pada anak yang mulai mengalami tanda perburukan.
Baca Juga: Waspada Pneumonia! Peradangan Paru-Paru yang Bisa Menyerang Semua Usia
Kabid P2P Dinkes Kabupaten Malang dr Titis Ari Respatilatsih mengatakan, orang tua perlu segera mengambil tindakan ketika muncul tanda bahaya. Pemeriksaan tidak sebaiknya ditunda dengan harapan kondisi anak membaik sendiri.
“Kalau sudah muncul tanda bahaya, jangan menunggu kondisi semakin berat. Anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan,” ujar Titis.
Dari sisi persebaran, catatan antarwilayah juga menunjukkan perbedaan cukup mencolok. Puskesmas Pakis menjadi fasilitas kesehatan dengan jumlah temuan tertinggi, yakni 1.152 penderita sepanjang 2026.
Baca Juga: Kasus Anak Terjangkit Pneumonia Melonjak
Menurut Titis, data tersebut menjadi bagian dari pemantauan Dinkes untuk melihat pola persebaran pneumonia. Hasil pemantauan kemudian digunakan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan penguatan edukasi maupun deteksi dini.
“Data kasus di masing-masing wilayah terus kami pantau. Dari situ bisa dilihat kecenderungannya dan menjadi dasar untuk memperkuat edukasi maupun deteksi dini di masyarakat,” jelasnya.
Secara medis, pneumonia merupakan infeksi yang dapat dipicu oleh berbagai patogen. Penyebabnya antara lain virus RSV, influenza, rhinovirus, adenovirus, dan SARS-CoV-2. Selain itu, terdapat bakteri seperti Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae tipe b.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (FKUM) sekaligus ahli anak dr Andreas Budi Wijaya menjelaskan, balita memiliki risiko lebih besar karena sistem pertahanan saluran pernapasan dan imunitas tubuhnya masih berkembang.
“Balita merupakan kelompok yang rentan mengalami infeksi saluran pernapasan, salah satunya pneumonia. Sistem pertahanan saluran napas dan imunitas anak masih berkembang, sehingga pada sebagian anak infeksi dapat berkembang menjadi pneumonia,” jelas Andreas.
Kerentanan tersebut dapat bertambah ketika anak mengalami masalah gizi, belum memperoleh imunisasi lengkap, atau kerap terpapar asap rokok dan polusi udara. Kondisi lingkungan rumah yang kurang sehat juga dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.
Meski demikian, Andreas mengingatkan agar lonjakan angka tidak langsung dikaitkan dengan satu penyebab tertentu. Menurut dia, data yang tercatat turut dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dalam mencari pengobatan, kemampuan tenaga kesehatan menemukan penyakit, serta pelaporan dari fasilitas kesehatan.
“Kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa peningkatan angka tersebut semata-mata disebabkan oleh satu faktor, misalnya perubahan cuaca. Peningkatan kasus yang tercatat juga dipengaruhi oleh seberapa aktif masyarakat memeriksakan anak, kemampuan deteksi pneumonia, serta pelaporan kasus,” terangnya.
Pencegahan dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua perlu memastikan imunisasi anak sesuai jadwal, termasuk vaksin PCV, serta memenuhi kebutuhan nutrisi untuk menjaga daya tahan tubuh.
Paparan asap rokok juga perlu dihindari. Andreas menyarankan anggota keluarga tidak merokok di dalam rumah maupun di sekitar anak. Jika terpaksa merokok di luar rumah, kebersihan diri dan pakaian tetap perlu diperhatikan sebelum kembali melakukan kontak dekat dengan anak.
“Sebaiknya tidak merokok di dalam rumah maupun di sekitar anak. Bila ada anggota keluarga yang merokok, pastikan segera mandi, sikat gigi dan berganti pakaian agar tidak ada residu yang menempel,” katanya.
Orang tua juga perlu mengenali tanda bahaya, seperti napas cepat, tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam, tidak mau minum atau menyusu, muntah terus-menerus, sangat lemas, hingga bibir membiru. Bila tanda tersebut muncul, anak perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan. (ram/adn)
Editor : Aditya NovrianSumber : Radar Malang