MALANG KOTA, RADAR MALANG - Oktober rutin diperingati sebagai pregnancy and infant loss awareness month atau bulan peringatan dan kesadaran global untuk bayi-bayi yang meninggal akibat keguguran. Selain keguguran, ada pula kasus bayi lahir mati dan bayi yang meninggal dunia.
Di Kota Malang, keguguran, bayi lahir mati, dan bayi yang meninggal dunia mencapai 374 kasus. Jumlah itu terhitung sejak awal 2025 sampai Oktober 2026.
”Yang paling tinggi kasus keguguran. Jumlahnya mencapai 227 kasus,” kata Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang drg Muhammad Zamroni.
Selanjutnya ada 56 kasus bayi lahir mati dan 91 kasus kematian bayi. Setiap tahun, dinkes rutin menemukan kasus-kasus yang berkaitan dengan kematian bayi. Zamroni melanjutkan, penyebab kasus yang berkaitan dengan perinatal (periode yang mencakup kehamilan hingga beberapa waktu setelah bayi lahir) cukup beragam.
”Ada yang disebabkan karena kelainan bawaan sejak lahir,” imbuh dia. Penyebab lain seperti bayi lahir terlalu dini atau pertumbuhan bayi kurang sesuai usia kehamilan. Selain itu, juga cedera atau luka pada bayi saat proses persalinan.
Untuk mengantisipasi kasus-kasus selama masa perinatal, dinkes rutin melakukan ante natal care (ANC) terpadu. Yakni skrining faktor risiko, deteksi kelainan atau masalah kehamilan sesuai kemampuan layanan, pemantauan pertumbuhan janin, hingga merujuk ibu ke dokter spesialis obgyn jika ditemukan faktor risiko yang menjurus ke kelainan.
Upaya lainnya seperti identifikasi kehamilan risiko tinggi. Kemudian pemantauan pertumbuhan janin, deteksi dan tata laksana anemia serta penyakit penyerta, pemantauan tanda persalinan prematur, hingga rujukan segera bila diperlukan.
Pemantauan tidak hanya saat momentum kehamilan. Namun juga saat persalinan. ”Untuk pemantauan persalinan yang sesuai standar menggunakan partograf atau monitoring kemajuan persalinan, deteksi persalinan berisiko, pertolongan persalinan sesuai kompetensi, kesiapan resusitasi bayi baru lahir, dan rujukan tepat waktu bila terjadi komplikasi,” tambah Zamroni. (mel/by)
Editor : Bayu Mulya Putra