UWK Soroti Kesehatan Mental Generasi Muda, Tak Semua yang Bilang “Aku Gapapa” Benar-Benar Baik

Kholid Amrullah • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 14:38 WIB
KOMPAK: Peserta dan panitia seminar Behind The Smile berfoto bersama di Aula UWK, Rabu (7/10).
SEMINAR: UWK bersama Lions Amazing Malang dan Mayapada Hospital Surabaya menggelar seminar Behind The Smile di Aula UWK, Rabu (7/10).

KOTA MALANG – Universitas Widya Karya Malang (UWK) membuka ruang bagi generasi muda untuk membahas persoalan kesehatan mental yang kerap tersembunyi di balik senyuman. Hal itu diwujudkan melalui seminar Behind The Smile – Apa yang Sebenarnya Kita Rasakan di Balik “Aku Gapapa”, Rabu (7/10).

Kegiatan yang digelar secara hybrid di Aula UWK tersebut merupakan kolaborasi bersama Lions Amazing Malang dan Mayapada Hospital Surabaya. Sebanyak 203 peserta mengikuti kegiatan secara langsung, sedangkan 173 lainnya secara daring.

Melalui kegiatan tersebut, UWK menyoroti persoalan yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Mulai tekanan akademik, tuntutan sosial, rasa tidak percaya diri, overthinking, pertemanan tidak sehat, bullying, cyberbullying, hingga kesulitan mengenali dan menyampaikan kondisi emosional.

Dekan Fakultas Hukum UWK sekaligus Ketua Tim Satgas PPKPT, Dr. R. Diah Imaningrum Susanti, S.H., M.Hum., M.Pd., mengatakan persoalan tersebut perlu dibicarakan secara terbuka. Sebab, kondisi seseorang yang mengalami tekanan tidak selalu terlihat dari luar.

“Memang ada anggapan bahwa generasi strawberry itu rapuh mentalnya. Dalam kenyataan memang banyak mahasiswa yang mengalami masalah kesehatan mental, terutama pada adanya perundungan (bullying),” ujar Diah.

Menurutnya, perundungan tidak hanya berbentuk kekerasan fisik. Perkataan, tekanan psikologis hingga pengucilan dari lingkungan pergaulan juga dapat berdampak terhadap kondisi seseorang. Tanda persoalan mental pun terkadang muncul perlahan, seperti mulai menarik diri dari pergaulan hingga aktivitas belajar terganggu.

“Sebetulnya diagnosisnya tidak terlalu kentara, tetapi tiba-tiba menarik diri dari pergaulan, kemudian sampai ada yang terganggu dalam hal belajar. Itu karena mereka merasa ada kecemasan,” jelasnya.

Kondisi tersebut juga dapat dialami mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua. Karena itu, Diah menilai mereka yang menghadapi tekanan maupun burnout membutuhkan tempat aman untuk bercerita. Di lingkungan UWK, dosen maupun Satgas PPKPT dapat menjadi ruang awal untuk mendapatkan pendampingan.

“Harus ada orang yang bisa dipercaya. Kalau di tempat kami, dosen-dosen itu bisa menjadi tempat untuk bicara,” katanya.

Pembahasan tersebut diperkuat dari perspektif psikologi melalui Jocelyn Faustina Santoso, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Psikolog Klinis Mayapada Hospital. Dalam materi “Sehat Mental, Langkah Nyata untuk Masa Depan”, peserta diajak melihat kesehatan mental sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi diri dan menghadapi berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan generasi muda.

Kehadiran perspektif psikologi sekaligus menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental perlu dikenali dan dibicarakan, bukan hanya ketika masalah sudah berat. Hal ini juga berkaitan dengan keberanian mencari dukungan ketika seseorang merasa membutuhkan bantuan.

Jocelyn mengingatkan agar stigma terhadap konsultasi psikolog tidak menjadi penghalang. Menurutnya, datang ke psikolog tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan jiwa.

“Bukan gangguan jiwa, tapi ingin memastikan bahwa ‘saya baik-baik saja’,” tegasnya.

KOMPAK: Peserta dan panitia seminar Behind The Smile berfoto bersama di Aula UWK, Rabu (7/10).
KOMPAK: Peserta dan panitia seminar Behind The Smile berfoto bersama di Aula UWK, Rabu (7/10).

Sementara itu, Ketua Pelaksana Behind The Smile, Dr. Celina Tri Siwi, S.H., M.Hum., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian UWK terhadap persoalan yang dihadapi generasi muda di tengah perkembangan teknologi.

“Dengan maraknya teknologi, seiring sejalan juga banyak sekali generasi muda kita yang mengalami mental health. Karena ketidaksiapan untuk mengatasi berbagai macam permasalahan dampak daripada teknologi, selain itu juga pertemanan yang sekiranya tidak sehat,” ujar Celina.

Karena itu, UWK mendorong terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman bagi mahasiswa, termasuk melalui organisasi mahasiswa dan Satgas PPKPT.

“Kami harus menjadi kampus aman dan nyaman untuk siswa studi, mahasiswa studi,” katanya.

Presiden Lions Club Malang Amazing, Oei Sandra, mengatakan kolaborasi tersebut menjadi bagian dari kepedulian terhadap generasi muda yang menghadapi berbagai tekanan.

“Melalui kolaborasi Lions Club Malang Amazing dan Universitas Widya Karya Malang, kami ingin mengingatkan bahwa tidak apa-apa untuk merasa tidak baik-baik saja, karena setiap anak muda berharga, tidak sendiri, dan berhak mendapatkan dukungan untuk menjaga kesehatan mentalnya,” ujarnya.

Kegiatan Behind The Smile menjadi bagian dari rangkaian Widyakarya Youth Festival 2026 yang mengusung pesan “Kenali Dirimu. Tantang Kemampuanmu. Ekspresikan Budayamu”. (akb)

 

Editor : Kholid Amrullah
#UWK #KesehatanMental #BehindTheSmile #LionsAmazingMalang #MayapadaHospital