Suasana tenang terasa saat wartawan koran ini memasuki gang. Nampak sangat jarang warga yang berlalu-lalang di jalan sempit itu. Rumah dengan pagar warna cokelat terlihat masih tertutup. Kediaman dengan gaya sederhana dan beberapa lukisan indah terpajang di dinding. Beberapa tanaman rapi tertata di rumah yang terdominasi warna putih tersebut.
Seorang pria datang menyambut dengan ramah. ”Silakan Mas, saya baru mandi ini tadi,” ucapnya sambil tertawa.
Dialah Herman Aga, koordinator komunitas pegiat lingkungan Sabers Pungli, saat ditemui di rumahnya Desa Pesanggrahan, Kecamatan Batu, Selasa lalu (1/9). Sabers Pungli sendiri kepanjangan dari Sapu Bersih Sampah Nyemplung Kali.
”Awalnya kami melihat permasalahan yang sangat kompleks di sungai di sekitar tempat kita tinggal. Yang sengaja dihanyutkan di sungai beragam, ada kasur, lemari bahkan bangkai binatang,” terangnya.
Itulah ide awal terbentuknya perkumpulan yang sepakat tak memiliki struktur organisasi ini agar lebih tidak terkesan formal. Alasan keputusan tersebut ialah kesetaraan anggota dan masalah yang tidak bertumpu pada individu saja, namun ke seluruh masyarakat. Bertepatan 3 September 2017, terbentuklah Sabers Pungli dengan 9 orang sebagai koordinator wilayahnya.
Aksi utama yang dilaksanakan adalah pembersihan sekitar aliran Sungai Brantas di setiap minggunya. ”Tanggapan warga sekitar yang kami datangi selalu positif. Mereka terasa terbantu untuk merawat lingkungan sekitar,” tutur pria berambut gondrong itu.
Hal lain yang mereka lakukan adalah pemilahan sampah berdasarkan jenis untuk pemanfaatan. Ia menjelaskan bahwa Kota Batu sebagai kota wisata ditengarai memiliki dampak positif dan negatif bagi kelangsungan kelestarian alam. Dampak positifnya ialah pendapatan ekonomi warga Kota Batu dapat terbantu. Sedangkan dampak negatif yang didapat adalah pengaruh kepada lingkungan hidup dengan banyaknya sampah yang ada di tempat-tempat wisata serta jalan maupun sungai.
Dari data yang dia miliki, bahwa setiap harinya tercatat kurang lebih 60 ton sampah yang dihasilkan dari para wisatawan. Masih banyak pelancong yang membuang sampah sembarangan misal dengan membuang dari jendela bus langsung ke sungai. Area destinasi wisata juga kerap dipenuhi bungkus bekas makanan kemasan.
Kurang sadarnya masyarakat sekitar akan bahaya sampah yang dibuang sembarangan jadi masalah global. Belum lagi perilaku sehari-hari manusia dengan kebiasaan membuang sampah ke sungai. ”Karena sudah menjadi kebiasaan umum, mereka jadi tak merasa bersalah,” ujarnya.
Acara ”nyemplung kali” yang diselenggarakan setiap Minggu diharapkan bisa jadi penyadar untuk masyarakat agar tetap menjaga lingkungan sekitar tempat dia tinggal. Banyak desa sudah menerapkan beberapa sistem kebersihan yang diawali dari kedatangan komunitas Sabers Pungli ini.
Ketika kegiatan turun lapangan, ada sekitar 10-250 orang turut serta membantu. Bahkan dari kalangan artis, seniman, komunitas, dan wali kota pun pernah merasakan bagaimana mirisnya melihat kondisi sampah yang ada di aliran Sungai Brantas. Tidak sekadar peduli lingkungan sosial, tapi dari komunitas ini bisa belajar nilai-nilai yang sudah ditanamkan oleh para leluhur.
”Waktu di lapangan kami tidak saling mengenal tapi kita bisa saling bergotong royong. Itulah ciri khas bangsa ini sejak lama, jika semua bekerja sama pasti akan lebih mudah,” ungkapnya.
Para relawan yang ada di komunitas ini meliputi seluruh Indonesia, bahkan juga luar negeri. Hal itu bisa dilakukan karena tidak hanya bantuan tenaga yang bisa disumbangkan. Siapa pun bisa memberi bantuan lain apabila tidak bisa langsung turun ke sungai seperti yang diungkapkan lelaki asli kelahiran Batu ini.
Karena ada pandemi, kegiatan mereka sempat vakum karena ada larangan berkumpul. Akhirnya terpaksa mereka mengubah konsep kegiatannya dengan melakukan kegiatan sosial. Misalnya bagi-bagi sembako, masker, dan hand sanitizer.
”Sedianya kami akan turun lapangan lagi mulai minggu depan,” ujarnya. Harapannya, ke depan bisa mengembangkan dari hanya Sungai Brantas di Kota Batu berlanjut ke Jawa Timur dan bahkan ke seluruh Indonesia.
Pewarta: Wildan Agta Affirdausy Editor : Shuvia Rahma