Sekretaris Kecamatan Bumiaji, Bambang Hari Sulian mengatakan selama pandemi Covid-19 ini petani hortensia di Desa Tulungrejo mengalami kerugian puluhan juta karena tidak laku. Padahal di area hutan bon 15 terdapat luas lahan sekitar empat hektare yang ditanami bunga dengan warna yang cerah itu.
"Ada sekitar 30 ribu potong yang tidak laku, karena kendala pengirimannya," katanya. Pihaknya pun sudah berkoordinasi dengan Dinas Pertanian melalui PPL (Petugas Penyuluh Lapangan) Pertanian tetapi belum ada solusi.
Padahal, biasanya bunga hortensia diminati dari berbagai daerah lainnya seperti Jakarta, Surabaya dan Bali. Dengan harga setiap potongnya Rp 2.500. "Setelah Pak Camat (Aditya Prasaja) Bumiaji mengetahui kondisi itu, dia berinisiatif untuk urunan membeli sekitar 400 potong bunga hortensia untuk ditata menjadi taman kantor kecamatan," katanya. Sebanyak 42 pegawai yang ada dapat mengumpulkan dana Rp 1 juta untuk membeli bunga tersebut.
Sebelum adanya Taman Hortensia, tempat itu hanya rerumputan gajah biasa. Dia berharap taman ini bisa menjadi contoh bagi 9 kantor desa yang ada di Kecamatan Bumiaji. Selama ini baru Kantor Desa Pandanrejo yang memiliki taman yang asri.
"Manfaatnya bagi masyarakat yang sedang mengurus dokumen pelayanan publik bisa menikmati taman yang ada di sekitar kantor dan menjadi ruang terbuka hijau," katanya.
Taman Hortensia sendiri luasnya sekitar 10 m2 dan setiap sore hari sering dikunjungi wisatawan. Apalagi letaknya di Jl Raya Punten dan bunganya bermacam-macam warna ada ungu, putih dan biru. Serta dilengkapi dengan kursi bambu untuk bersantai. Kecamatan Bumiaji sendiri memang warganya didominasi sebagai petani sayuran dan bunga. Seperti di Desa Gunungsari dikenal sebagai penghasil bunga mawar potong. Dan di Desa Punten beberapa warganya juga pembudidaya bonsai.
PEwarta: Nugraha Editor : Shuvia Rahma