Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pandemi, Puspaga Batu Panen Sambatan Kasus KDRT hingga Belajar Online

Shuvia Rahma • Senin, 12 Oktober 2020 | 16:59 WIB
Konselor Puspaga Kota Batu menerima keluh kesah rumah tangga melalui media online. (Nugraha / Radar Malang)
Konselor Puspaga Kota Batu menerima keluh kesah rumah tangga melalui media online. (Nugraha / Radar Malang)
KOTA BATU - Di tengah pandemi Covid-19 Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Batu menerima konseling melalui online. Ada 23 orang sejak Maret lalu yang telah melakukan penyuluhan psikis. Bentuk keluhan baru yang sering ditangani mengenai kesusahan seseorang dalam menerima keadaan ekonomi yang lemah dan pembelajaran daring pelajar sekolah.

Konselor Puspaga Kota Batu, Lovita Siregar mengatakan pihaknya baru menerima konseling online sejak Maret lalu. Ini setelah adanya mandat dari Deputi Tumbuh Kembang Anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). "Rata-rata setiap bulan menerima 2 sampai 4 konseling dari masyarakat," katanya. Pelayanan, tak terbatas Kota Batu, namun seluruh Indonesia. Sampai saat ini orang-orang yang sudah pernah melakukan konseling diantaranya Malang Raya, Surabaya, Blitar hingga Palangkaraya.

Persoalan baru yang sering dijumpai menurutnya dampak pandemi Covid-19 terhadap perekonomian masyarakat. Salah satunya yang pernah ditangani oleh Lovita yakni pasangan suami dan istri asal Blitar. "Suaminya bekerja sebagai supir antar barang, sebelum korona bisa bekerja dengan maksimal. Tetapi saat pandemi Covid-19 ini tidak bisa menafkahi keluarganya secara penuh," katanya. Dampaknya terjadi KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) yakni pemukulan kepada istrinya karena dalam keadaan emosi.

Menurutnya, solusi bagi keluarga yang bisa dicegah jika terjadi masalah semacam itu, langkah pertama yang harus diambil adalah menenangkan diri terlebih dahulu. Lalu tidak mengambil segala sesuatu keputusan dengan keadaan emosi karena hanya sifat egois yang ada.

"Kemudian setelah tenang, dapat membaca dan mendengarkan atau menonton segala hal yang dapat memotivasi dan menginspirasi," katanya.

Keluhan lain adalah para orangtua yang kewalahan mendampingi anak saat belajar daring. Menurutnya solusi dari persoalan tersebut adalah membuat kesepakatan dengan anak. "Tetapi dengan cara yang baik, orangtua tidak otoriter dan lebih mendengarkan kemauan anaknya," katanya.

Di sisi lain pihaknya masih menerima konseling dengan tatap muka sampai September lalu ada 21 konseling. Jika digabung untuk tahun 2020 ini sudah ada 44 orang yang melakukan konseling. Jumlah ini tentu meningkat dibandingkan dengan tahun 2019 lalu yakni 29 konseling. Dia memprediksi jumlah konseling terus bertambah sampai akhir tahun. "Iya mungkin pandemi Covid-19 ini banyak orang yang mengalami permasalahan didalam keluarga, apalagi Indonesia akan resesi," katanya. (nug). Editor : Shuvia Rahma
#sekolah daring #nug #puspaga #KDRT #belajar online #RMOC