“Kalau musim kemarau hasil panen stroberi jadi bagus. Tapi, sekarang hampir setiap hari selalu ada hujan, tanaman jadi rusak,” kata Muhammad Jumar, salah satu petani stroberi di Desa Pandanrejo, Kecamatan Bumiaji hari ini (1/1). Air yang terlalu banyak masuk ke tanaman menyebabkan buah menjadi banyak yang busuk. Tanaman pun tidak begitu sehat dan mudah terkena penyakit.
Upaya yang dilakukan petani adalah membuat parit di sekitaran lahannya. Hal itu dilakukan dengan harapan air tidak akan tergenang bila hujan terus melanda. Pupuk maupun vitamin yang diberikan juga tidak bisa terserap dengan maksimal lantaran terbawa air hujan.
Rusaknya tanaman memunculkan masalah baru untuk petani. Pasalnya, masa pemulihan yang dibutuhkan agar tumbuhan ini kembali sehat sekitar 25 hingga 30 hari. Dengan waktu pemulihan sangat lama, pasti berdampak pada kurangnya hasil panen yang didapat.
Dari besarnya permintaan kini hanya tersedia 25 – 30 kilogram per panennya dari lahan yang dimiliki seluas 400 meter persegi. Penyemprotan insektisida jadi alternatif petani untuk menanggulangi masalah sejauh ini. Tetapi, hasil yang diperoleh juga tetap belum maksimal. Saat ini harga stroberi di pasaran berkisar dari Rp 45 hingga 60 ribu per kilonya tergantung kualitas buah. “Semoga cuaca bisa membaik lagi. Sehingga produksi buah juga bisa lancar seperti biasa,” harapnya.
Pewarta: Wildan Agta Affirdausy
Editor : Ahmad Yani