Seperti yang dirasakan Suyanto petani selada warga Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu. "Kalau terlalu banyak nyerap air jadi gampang busuk. Tanaman seperti ini memang lebih bagus di tanam saat kemarau," terangnya hari ini (9/1). Pembuatan saluran air dan penyemprotan rutin dipilih petani agar selada tetap tumbuh subur. Termasuk memastikan tempat keluar atau pembuangan air lancar agar tak memunculkan genangan air di lahan tanam.
Di musim hujan seperti saat ini, Yanto- sapaan akrabnya masih bisa membawa pulang 50 sampai 60 kilogram selada dalam sekali panen. Hasil tersebut didapat dari lahan seluas tujuh ratus meter persegi. Sementara jarak waktu penanaman hingga panen yaitu 40 hari.
Selain cuaca, hama cabuk dan ulat juga menjadi masalah. “Hama apapun itu akan selalu ada. Tinggal musim yang menentukan hama apa yang datang,” terangnya. Ulat memang umumnya akan ada di bulan Oktober hingga April. Penyemprotan pertisida secara rutin ialah salah satu bentuk upaya yang dipilih. Sebelum daun habis digerogoti hewan kecil melata itu.
Sedangkan untuk cabuk penanganannya juga sama. Ia biasa menyemprot selada menggunakan pertisida. Hujan bisa berdampak baik dengan tanaman karena membantu merontokan hama yang biasa ditemui di batang ataupun daun. Pemberian kalsium rutin adalah cara wajib lainnya guna mencegak kadar keasaman yang terlalu tinggi.
Harga selada di pasaran sekarang megalami penurunan meski tak signifikan. Pada kondisi normal sayuran dengan banyak olahan ini dipatok Rp 5 ribu per kilonya. Sedangkan sekarang dihargai seharga Rp 3,5 hingga 4 ribu per kilogram. Salah satu penyebab turunnya harga karena penyedia sayur selada lebih banyak dari permintaan pasar.
Pewarta : Wildan Agta Affirdausy
Editor : Ahmad Yani