Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Andono Joyo Mantan Petinju Nasional Jadi ASN Pemkot Batu

Shuvia Rahma • Rabu, 27 Januari 2021 | 00:00 WIB
Photo
Photo
KOTA BATU - Tubuhnya gempal, sisa-sisa perawakannya sebagai atlet masih terlihat. Dialah Andono Joyo, petinju legendaris nasional kebanggaan warga Malang Raya di dekade 90-an sampai awal 2000-an. Saat ini pria yang menggemari Mike Tyson ini menjadi ASN di Pemkot Batu.

Andono sendiri dari kecil sudah menyukai olahraga yakni tinju dan sepakbola. Sempat ditentang oleh kedua orangtua, tetapi dirinya memiliki tekad yang kuat untuk menjadi juara. Saat duduk di bangku SMP PGRI 01 Blimbing, dirinya diajak temannya untuk mendaftar di Sasana Tinju Taman Tirta yang berada di Jl Kawi pada tahun 1990.

Awal mula, dia mengikuti berbagai pertandingan tinju di tingkat regional Malang. Andono mengatakan salah satu momen yang paling diingatnya ketika pernah bermain tinju selama 12 hari dan dalam tiga kali pertandingan mendapatkan menang KO.

"Saya lupa nama kejuaraannya apa, tetapi kejuaraan expo 6 ronde itu momen yang paling saya ingat," katanya.

Lalu pada tahun 1994, Andono mengikuti gelaran tinju Kejuaraan Brawijaya di GOR Pulosari. Dengan turun di Kelas Ringan 61,2 Kg, dia bertanding di ajang tingkat nasional.

"Saya melawan sesama atlet Malang, kemudian dari sana saya sempat menduduki peringkat 1 Nasional," katanya.

Gelar Brawijaya diciptakan untuk memberikan kesempatan kepada petinju Jawa Timur tampil dalam kejuaraan 10 ronde.

Lalu sempat vakum lama karena tidak ada pertandingan, tahun 1997 Andono kembali naik ring. Dia bermain dalam acara tinju yang diselenggarakan oleh salah satu stasiun TV nasional. Pada tahun 1999, dia bermain di Taman Krida Budaya dalam perebutan peringkat nasional melawan Max Karamoy dari Surabaya. "Alhamdulillah saya kembali ke peringkat 1 lagi pada saat itu," katanya.

Kemudian pria kelahiran Malang 22 Juni 1975 dilirik oleh salah satu promotor tinju nasional yakni Torino Tidar. Dia mengikuti pertandingan di bawah Pan Asian Boxing Association yang merupakan badan tinju regional untuk kawasan Asia Pasifik. Pada September tahun 1999 bertempat di Medan, Andono bertanding melawan petinju asal Australia.

"Saya menang KO dalam 4 ronde, saya lupa nama lawannya siapa," katanya.

Karena berat badannya naik menjadi 63,5 Kg, Andono memutuskan untuk naik kelas ke Welter Junior. Pada tahun 2001 dia menjuarai gelaran Kejuaraan Panglima Angkatan Udara di Padang. Lalu dalam waktu yang sama dia juga mengikuti Kejuaraan Nasional di Senayan, Jakarta.

"Saya selama bertinju juga kuliah S1 Hukum di Universitas Widyagama Malang, Alhamdulillah lulus tahun 2001," katanya.

Akhir karir Andono mulai meredup pada tahun 2003. Saat itu dirinya mengikuti pertandingan di bawah Pan Asian Boxing Association di Jawa Tengah. "Tetapi saat itu saya kalah melawan orang Thailand," katanya. Setelahnya, dirinya mendapatkan tawaran bekerja di Satpol PP Kota Batu sebagai honorer Banpol.

Andono sadar bahwa tidak selamanya dia bisa bergelut di dunia tinju. Menurutnya penghasilan tetap untuk menghidupi istri dan dua anaknya penting dilakukan. Wali Kota Batu saat itu yakni Imam Kabul menurutnya menjadi salah satu orang yang berjasa dalam hidupnya.

"Pada saat itu Pak Imam Kabul sebagai Komisi Tinju Indonesia Malang Raya," katanya.

Kemudian pada tahun 2007 dirinya mengikuti tes CPNS setelah adanya program dari Pemerintah Pusat yang dikhususkan bagi honorer yang sudah lama mengabdi selama 5 tahun. Dia bercerita bahwa menjadi PNS bukan karena prestasinya sebagai atlet tinju, melainkan murni karena adanya tes.

"Saya sebenarnya kecewa terkait hal ini, seolah-olah prestasi saya tidak berharga bagi pemerintah," katanya.

Saat ini kesibukan Andono sehari-hari sebagai Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Kecamatan Junrejo Kota Batu. Selain itu, dirinya masih aktif di dunia tinju dengan melatih di Sasana Tinju API (Asosiasi Petinju Indonesia) Boxing Camp.

"Setelah pulang kantor saya sempatkan melatih ada 5 atlet, latihannya biasanya di rumah saya di Jalan Ikan Tombro, Malang," katanya.

Kini dia mengharapkan salah satu anak laki-lakinya bisa meneruskan prestasinya di bidang tinju. Yakni Taarauf Gundo Wijaya (18) yang tengah dipersiapkan oleh dirinya untuk mengikuti pertandingan tinju tingkat Jawa Timur di tahun 2021 ini. Selain itu, dia berpesan kepada masyarakat jika memiliki anak yang bercita-cita sebagai petinju untuk jangan takut memberikan dukungan.

"Terkadang para orang tua khawatir anaknya menjadi petinju karena citra petinju yang suka nakal misal pakai narkoba padahal untuk saat ini tidak," katanya.



Pewarta : Nugraha Perdana
Editor : Shuvia Rahma
#asn petinju #asn kota batu #andono joyo