Pantauan Jawa Pos Radar Malang beberapa hari lalu, objek wisata di Jalan Sumber Urip, Desa Tlekung, itu dimanfaatkan bocah-bocah desa untuk berenang. Kualitas air di kolam tersebut juga terlihat keruh. Tampak salah satu kolam mengalami kebocoran sehingga tidak penuh saat diisi air.
Kondisi itu disesalkan oleh anggota Komisi C DPRD Kota Batu M. Choirul. Legislator asal PKS itu mengatakan, seharusnya potensi di setiap desa di Kota Batu dioptimalkan. Soal perawatan, menurut dia menjadi tanggung jawab bersama, terutama Pemerintah Desa (Pemdes) Tlekung yang memiliki kewenangan. ”Jika kondisinya benar seperti itu, perlu komunikasi dengan Pemkot Batu,” kata Choirul kemarin (28/2).
Dia mengungkapkan, seharusnya tempat wisata Petirtaan Kaygun dapat menjadi destinasi baru. Karena itu, dia menilai perlu adanya keterlibatan dinas terkait. ”Pemerintah desa seharusnya berkoordinasi dengan dinas perumahan untuk menanyakan bagaimana solusi perawatannya dan dinas pariwisata terkait promosinya,” katanya.
Di sisi lain, salah satu warga RT 03/RW 02, Nuriyanah yang rumahnya hanya berjarak sekitar 10 meter dari wisata petirtaan, mengungkapkan bahwa saat ini tempat wisata Petirtaan Kaygun mengalami kendala, yakni aliran air yang tidak lancar dan kebocoran kolam untuk pengunjung dewasa. ”Kolam bocor itu sudah terjadi sejak awal diresmikan sehingga tidak bisa penuh ketika diisi air,” kayanya.
Selain itu, permasalahan yang terjadi terutama yang berdampak pada warga adalah penggunaan air himpunan penduduk pemakai air minum (hippam) sebagai salah satu sumber pengairan kolam. Ketika dihidupkan, maka debit air di rumah warga mengecil. ”Ada dua cara untuk mengairi kolam, pertama langsung ambil dari sumber, tetapi satunya dengan hippam. Nah, itu ketika dinyalakan hampir 10 rumah ikut terdampak,” katanya.
Menanggapi belum beroperasinya wisata Petirtaan Kaygun, Kepala Desa (Kades) Tlekung Mardi mengatakan bahwa pengelolaan wisata Petirtaan Kaygun belum siap dioperasionalkan. Pihaknya berjanji akan segera memperbaiki kebocoran salah satu kolam tersebut. ”Ini kami sudah koordinasi dengan Universitas Brawijaya untuk pembenahannya seperti apa,” katanya seusai menghadiri Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Kecamatan Junrejo di balai penelitian tanaman jeruk dan buah subtropik (balitjestro) beberapa waktu lalu.
Untuk diketahui, wisata Petirtaan Kaygun dibangun di atas tanah kas desa seluas 1.000 meter persegi. Pembangunannya menghabiskan dana Rp 450 juta. Pembiayaannya diambilkan dari Dana Desa (DD) tahun 2019 lalu. ”Pembangunannya menggunakan tenaga kerja dari warga Tlekung sendiri,” katanya. (rmc/nug/c1/dan)
Editor : Ahmad Yani