Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UIN Maliki Malang, Dr H Isroqunnajah MAg menerangkan, berdasarkan keterangan panitia penyelenggara PPAB UKM Pencak Silat Pagar Nusa, sebelum kegiatan, panitia melakukan screening kesehatan kepada para peserta.
“Screening kesehatan melalui wawancara, misalnya ada riwayat sakit apa, kemudian alergi apa, dan sebagainya. Bagi yang memiliki catatan kesehatan dan membutuhkan penanganan berbeda dengan peserta lain, diberikan pita merah. Almarhum MRP ini termasuk yang dapat pita merah. Untuk Faishal Lathiful Fakhri (FLF), saya kurang tahu detilnya,” jelas dia.
Pada jadwal hari pertama, di Jumat (5/3) para peserta dan panitia menginap sehari di SMK Mahardika, Karangploso. Jumat malam, seluruh peserta dan panitia melakukan istighosah bersama.
Pada Sabtu (6/3), seluruh peserta dan panitia menuju ke Desa Tlekung untuk melakukan tradisi long march menuju Coban Rais. Sebelum melakukan long march, para peserta melakukan pemanasan terlebih dahulu, termasuk MRP dan FLF.
Selama perjalanan, MRP berada di barisan paling belakang karena mengaku kelelahan sehingga harus beberapa kali beristirahat baik untuk minum ataupun sekadar makan cemilan. Pada proses itu, ia ditemani oleh panitia yang bertugas sebagai sweeper (petugas paling belakang uang memastikan tidak ada anggota tertinggal dari rombongan).
“Karena memang jalannya menanjak, sehingga almarhum kelelahan dan harus beristirahat. Mereka berjalan tanpa membawa beban karena barang-barang dibawa oleh panitia,” ungkap dia.
Saat itu, MRP berhasil sampai finish di camp ground Coban Rais, namun ia terjatuh karena terlalu kelelahan sehingga dilarikan ke tenda untuk mendapatkan pertolongan pertama. Menurut penuturan panitia yang diceritakan Kembali oleg Gus Is, MRP mengalami kesulitan bernafas sehingga panitia berinisiatif untuk memberikan bantuan oksigen.
“Almarhum ngos-ngosan. Kemudian setelah dapat bantuan oksigen, agak mendingan. Namun dari panitia ini tetap khawatir, sehingga diputuskan untuk dibawa ke rumah sakit,” kata dia.
Sayangnya, saat mendapatkan penanganan medis, nyawa MRP tak bisa diselamatkan. Ia menyebut, berdasarkan kronologi tersebut, tidak ada tindak kekerasan kepada kedua korban.
"Nggak ada kekerasan. Bahkan untuk acaranya sendiri saja belum mulai, karena mereka sedang dalam perjalanan ke lokasi kegiatan," kata dia.
Gus Is melanjutkan, kejadian tersebut akan menjadi evaluasi bagi UIN Malang, terutama untuk kegiatan kemahasiswaan di luar kampus agar kejadian serupa tak terulang kembali.
Terkait langkah lanjutan, Gus Is mengaku untuk saat ini kampus berkonsentrasi untuk proses pemulangan jenazah MRP ke rumah duka di Bandung. Proses pemulangan hingga saat ini belum selesai karena jenazah hendak disalatkan dulu di Ponpes Ar-Rohmah Putra, Batu.
“Almarhum tinggal dan mengabdi di ponpes tersebut. Tadi pengurus meminta agar jenazah bisa disalatkan di sana (ponpes Ar-Rohmah Putra) sebelum diberangkatkan ke Bandung,” pungkas Gus Is.
Pewarta: Inifia
Editor : Shuvia Rahma