Siswandri mengatakan, mercon bumbung terbuat dari bambu yang dilubangi dan diisi dengan karbit dicampur air. Setelah itu, lubang bambu ditutup sebentar menggunakan kain supaya kedap dan menghasilkan suara besar saat disulut api. "Yang bagus menggunakan bambu jenis petung, tapi ini yang biasa," katanya.
Menurut Siswandari, tradisi permainan mercon bumbung memang tdak semeriah dulu. Perkembangan teknologi gadget dengan game online membuat para remaja tak mau berpaling dengan permainan tradisional.
Diakui Siswandri, mercon bumbung bisa dibilang permainan yang berbahaya bagi anak-anak. Tetapi menurutnya, dengan pengawasan dari para orang tua, permainan tersebut tetap aman dan seru. "Permainan ini kan sudah ada sejak Belanda. Paling tidak ada pengawasan terus ketika ada yang main ini," katanya.
Ketua RW 03 Kelurahan Ngaglik Yuris Efendi mengatakan mercon bumbung patut dilestarikan. Bahkan dirinya berkeinginan membuat lomba bertemakan petasan dari bambu itu. "Yang Ramadan tahun ini sudah ada lomba patrol tingkat RW, mungkin yang mercon bumbung menarik untuk dilombakan puasa tahun depan," katanya.
Pewarta : Nugraha Perdana Editor : Ahmad Yani