Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Rinto Jati Lawas, Spesialis Pembuat Rumah Kayu Recycle dari Batu

Shuvia Rahma • Kamis, 8 Juli 2021 | 17:45 WIB
Rinto Jati Lawas (ist)
Rinto Jati Lawas (ist)
Di kalangan arsitek rumah tradisional, nama Rinto Agung begitu ternama. Sebab, dia konsisten membuat desain rumah berbahan kayu bekas. Dia sudah membuatkan sekitar 30 rumah tradisional di berbagai kota.

Menekuni dunia perkayuan, bagi Rinto Jati Lawas–sapaan Rinto Agung– sebenarnya belum terlalu lama. Dia mengawalinya pada tahun 2011. Meski begitu, warga Dusun Putuk Rejo Gintung, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, itu sudah ahli membuat joglo, srontong, gazebo, serta furnitur antik.

Kayu hasil karyanya hasil daur ulang. Kemudian dipolesnya menjadi seni bernilai tinggi. Rinto bercerita kiprahnya menekuni jasa arsitektur Jawa secara otodidak.

”Saya awal bekerja di bidang audio visual. Foto dan video. Itu berjalan cukup lama, mulai tahun 1999-2012. Pekerjaan itu saya lakoni di sela-sela kuliah di Ilmu Komunikasi UMM (Universitas Muhammadiyah Malang),” katanya.

Seiring berjalannya waktu, pada tahun 2011 awal dirinya mengenal dan menyenangi dunia perkayuan. ”Rumah pertama yang saya bangun itulah awal mula saya menyenangi kayu. Kemudian saat pindah ke Kota Batu, saat pindah dari Tulungagung, saya bongkar dan kemudian dibawa ke Batu,” kata laki-laki kelahiran Tulungagung, 15 Agustus 1979, ini.

Memang benar, rumah miliknya dikonsep tradisional. Utamanya halaman rumah miliknya yang penuh dengan gazebo Jawa. Bahkan, dia manfaatkan bersama rekannya, Vicky Nugrahawan Afandi, membuka usaha Kopi Sontoloyo.

Untuk belajar membuat bangunan rumah Jawa tersebut, Rinto belajar dari seorang tukang kayu asal Jogja, (alm) Mas Kamdi. Diungkapkan Rinto, almarhum punya keahlian khusus dalam membuat bangunan rumah Jawa. Dia bukan seorang lulusan arsitek, sama seperti dirinya yang berlatar belakang berbeda.

Bedanya, (alm) Mas Kamdi murni seorang tukang. Selain belajar dari (alm) Mas Kamdi, Rinto kerap diajak mengerjakan setiap proyek atau jasa konstruksi. Lebih jauh lagi, Rinto mengenang bahwa ketertarikan dirinya untuk mendirikan rumah tradisional, khususnya rumah Jawa karena beberapa alasan. Pertama, bentuk bangunan tidak membosankan dan nyaman untuk ditinggali.

Kemudian, dia berpandangan bahwa orang membuat rumah di zaman dulu sarat dengan nilai historis tinggi. Baik itu dari budaya dan agama. Itu dia ceritakan dari pengalamannya sendiri.

”Dengan berbagai macam uraian tadi, saya ingin melestarikan rumah-rumah tradisional. Terutama rumah Jawa dan yang ada di Jawa ini,” papar ayah dua anak ini.

Gayung bersambut, apa yang dilakoninya ternyata menarik dan diminati. Beberapa bangunan tradisional Jawa telah dia dirikan. Mulai di Batu, Malang, Banyuwangi, hingga ke Karimun Jawa dan beberapa daerah lainnya. Namun, dia tidak bisa menceritakan secara detail pengalamannya itu. Tetapi, yang dia ingat ada sekitar 30 rumah tradisional yang telah digarapnya.

Untuk material, dia menggunakan kayu bekas. Dia dapatkan dari berbagai kota. Utamanya Jawa Timur seperti dari Ponorogo, Trenggalek, Kediri, Blitar, Tulungagung, hingga Banyuwangi. Material bekas dibelinya dari rumah-rumah yang ada di kampung-kampung. Setelah terbeli, dia bongkar dan dirikan ulang.

”Memang mencari bahan itu harus sabar, hunting, bahkan bisa berminggu-minggu karena menyesuaikan konsep bangunan dengan permintaan klien,” katanya.

Sedangkan untuk jenis kayu, yang sering digunakan adalah kayu jati, sono, laban, mangir, nangka, bendo, sengon, kemudian kayu kapurojo. Tergantung selera dan permintaan.

”Pilihan kayu untuk rumah zaman dulu kebanyakan berdasar strata sosial. Yang punya modal cukup beli kayu jati,” katanya.

Modal yang dibutuhkan untuk membuat rumah juga cukup terjangkau. Satu unit rumah kayu dibanderol dari Rp 40 juta sampai Rp 250 juta. Biaya itu sudah termasuk jasa penggarapan dari nol hingga berdiri. Sedangkan untuk proses penggarapan mulai 2 sampai 6 bulan pengerjaan.

”Sekarang saya sedang menggarap rumah kayu di Blitar, konsepnya pada umumnya rumah bawahnya beton bangunan terus atasnya kayu seperti joglo sama gazebo,” katanya.

Lebih dari itu, dengan membangun rumah Jawa, setidaknya dia ikut menjaga keberlanjutan dan keseimbangan antara alam, manusia, dan dengan budaya. Karena sejatinya, budaya harus dijaga tradisi dan warisan budayanya. Salah satunya adalah arsitektur Jawa. (nug/c1/abm/rmc)
Editor : Shuvia Rahma
#arsitektur jawa #rinto jati lawas #Bumiaji