Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Dinilai Tak Manusiawi, Pedagang Pasar Batu Komplain Bedak Relokasi

Shuvia Rahma • Minggu, 17 Oktober 2021 | 04:00 WIB
Puluhan pedagang Pasar Besar Batu mendatangi tempat relokasi di sekitar Stadion Brantas, Jumat (15/10).(Nugraha Perdana/Radar Malang)
Puluhan pedagang Pasar Besar Batu mendatangi tempat relokasi di sekitar Stadion Brantas, Jumat (15/10).(Nugraha Perdana/Radar Malang)
KOTA BATU - Puluhan pedagang Pasar Besar Batu mendatangi lokasi tempat relokasi di sekitar Stadion Brantas, kemarin (15/10/21). Mereka mempertanyakan kualitas bedak/kios yang difasilitasi oleh Pemkot Batu, karena dinilai tidak layak sebagai tempat relokasi pedagang.

Salah satu pedagang, Ida mengatakan bedak yang disediakan dinilainya tidak manusiawi. Menurutnya tempat yang ada kecil dan sempit, sehingga tidak mampu menampung dagangan makanan ringannya. "Ya mintanya ya yang sesuai, yang layak dan dengan kebutuhan jualan kami. Yang saya khawatirkan terkait keamanan dan daya beli masyarakat jadi berkurang," ujarnya.

Dia juga mempertanyakan penempatan lokasi relokasi yang kurang strategis dan dinilai membingungkan. Misalnya, ada beberapa bedak yang ditempatkan kurang sesuai dari harapan. "Ada yang dekat dengan tembok stadion, itu bisa susah cari pembeli. Apalagi di sini lokasinya jauh dari keramaian seperti terminal," kata Ida.

Selain itu, para pedagang kata dia, belum mendapatkan jadwal yang pasti terkait rencana pemindahan ke tempat relokasi. Ida hanya pernah mendengar kabar melalui media massa, tetapi ia lupa. "Nggak ada kabar apapun dari pemerintah, tanggalnya dan bulannya kapan, hanya dengar kabar di koran, jadi ya bingung," kata pedagang yang sudah berjualan 20 tahun lebih tersebut.

Ida juga masih belum setuju jika dalam waktu dekat akan dipindahkan. Perlu diketahui, rencananya pembangunan tempat relokasi pedagang berakhir pada bulan ini. Lalu para pedagang akan boyongan pada November mendatang.

"Seperti ini kan pemerintah belum siap, terus nanti kendaraan pengunjung ditaruh mana juga belum tahu, kan semakin membuat orang malas ke pasar," katanya.

Ketua HPP (Himpunan Pedagang Pasar) Faizi Rahmi mengatakan, kedatangan para pedagang supaya mereka bisa berpikir bersama melihat kondisi pembangunan tempat relokasi pedagang. Menurutnya, untuk kekuatan bangunan non permanen dinilainya juga tidak kuat.

"Kalau seperti ini terkena puting beliung bisa roboh, akses jalan pembeli juga gimana, ini jelas semua akan berdampak pada penurunan ekonomi pedagang," kata Faizi.

Dia juga berharap adanya transparansi terkait bagaimana kejelasan gambar DED (detail engineering design) yang belum pernah diketahuinya. Bahkan menurutnya anggota dewan di DPRD Kota Batu juga belum menerima.

"Kapan bangun, kapan pindah juga belum jelas, kan semua informasi itu harus juga nyambung. Padahal ketika saya studi banding ke Ngawi, Solo dan Yogyakarta itu ada transparansi antara pemerintah dengan pedagang," jelasnya.

Dia berharap, kondisi ini jangan sampai menjadi bumerang bagi pemerintah, karena menurutnya akan terjadi ketimpangan ekonomi dan sosial. Padahal tujuan adanya revitalisasi pembangunan Pasar Besar Batu untuk kesejahteraan masyarakat. Untuk langkah selanjutnya, para pedagang akan tetap menggandeng anggota DPRD Kota Batu untuk menyoroti permasalahan tersebut.

Selain itu, yang menjadi keluhan pedagang, setelah dihitung jumlah keseluruhan bedak/kios yang dibangun hanya 1.038 unit. Padahal ada sekitar 1.700 pedagang aktif unit dalam di Pasar Besar Batu.

Sementara itu, Kabid Perdagangan Diskoperindag Kota Batu Nurbianto mengatakan, ada 1.136 bedak yang dibangun pada tempat relokasi. Jumlah tersebut sesuai dengan pedagang yang memiliki surat resmi atau SK.

"Kurang, ya mesti kan belum jadi semua, lalu untuk pedagang di unit apel (sekitar 300 pedagang) itu nanti dipindah di dalam Pasar Sayur, kan masih ada tempat yang kosong," katanya.

Untuk kualitas bedak di tempat relokasi, menurutnya sudah direncanakan dengan matang. Dia mengatakan untuk ketinggian bangunan dari galvalum itu hanya 3,3 meter. "Kalau lebih dari itu meter takutnya nanti kena terpaan angin. Jadi dibangun segitu, sesuai kajian memang," katanya.

Kemudian terkait limpahan air menurutnya sudah dipikirkan, begitu juga soal saluran drainase dan resapannya, sehingga tidak akan sampai masuk ke bedak pedagang.

Untuk kondisi bedak yang sempit, dia berharap para pedagang bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada. "Sehingga untuk barang dagangan tidak dibawa semuanya supaya tidak penuh, begitu juga soal DED nanti akan disosialisasikan lagi," ujarnya. (nug/lid/rmc).
Editor : Shuvia Rahma
#pasar besar batu #revitalisasi pasar tradisional #relokasi pedagang pasar