Lurah Ngaglik Edwin Yogaspatra Harahap mengatakan, anggota KUBE Batik Kembang Tanjung terus bertambah. Hingga kini terdapat 10 anggota aktif. Awalnya, kata dia, pembentukan usaha ini pada November 2020 lalu. Tujuannya untuk mengembangkan ekonomi kreatif warga Ngaglik. "Sebelumnya kami cari warga yang benar-benar berniat ikut pelatihan tersebut. Jadi ada keberlanjutan sebagai kelompok usaha," katanya.
Dia mengatakan, pembuatan batik Kembang Tanjung menggunakan teknik jumput. Setiap kain yang dibuat membutuhkan waktu 10 hari. Pewarnaan menggunakan pewarna alami seperti kayu pohon dan daun mangga.
"Motif ini terinspirasi dari pohon tanjung yang tumbuh di sekitar sumber mata air di Kelurahan Ngaglik. Kemudian airnya yang sakral digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan supaya ada ciri khasnya," katanya.
Lalu untuk harga setiap kain dibanderol Rp 160 ribu. Kini permintaan produksi sudah tinggi. Dalam satu bulan pernah memproduksi sebanyak 100 kain. Padahal modal awal batik Kembang Tanjung berasal dari pinjaman di bank senilai Rp 20 juta.
"Ini juga pernah dibeli orang Singapura. Selain kain, kami juga membuat kemeja dan masker. Ada motif bianglala dan lainnya," katanya.
Untuk mengembangkannya, pihaknya berencana mengadakan pelatihan batik jumput. Tujuannya untuk menambah jumlah pengrajin. Kemudian untuk pemasaran, pihaknya menggandeng influencer. Rencananya, batik Kembang Tanjung akan dijadikan salah satu paket wisata dari Kelurahan Ngaglik.(nug/dan/rmc) Editor : Farik Fajarwati