Hal serupa juga disampaikan oleh Anggota DPRD Kota Batu H M Didik Subiyanto. Dia menyebut, potensi pengembangan bibit di Kota Kota Batu cukup menjanjikan. Jika dikelola dengan baik, dia memprediksi bahwa komoditi jeruk akan memiliki permintaan pasar yang baik.
Saat ini pria yang akrab dipanggil Kaji Biyanto ini memiliki beberapa tempat pembibitan jeruk jenis siam madu. Masing-masing tersebar di Kelurahan Sisir sebanyak 40 ribu bibit dan Desa Sumbergondo sebanyak 30 ribu bibit. Di Kelurahan Sisir, mereka memanfaatkan aset milik Pemkot Batu seluas sekitar 3.000 meter persegi yang dikelola sejak Juli lalu. Sedangkan pembibitan di Desa Sumbergondo telah dikembangkan sejak Maret lalu.
Dia mengatakan, pasar permintaan pengiriman bibit jeruk sangat bagus. Apalagi, Kementan menargetkan semua provinsi di Indonesia memiliki kawasan pertanian jeruk. Prediksinya, peluang pemasaran dari produksi bibit jeruk masih ada beberapa tahun ke depan.
"Hari ini saja (kemarin) ada 300 bibit yang dikirim ke daerah Dau, Kabupaten Malang. November besok sudah ada pesanan pengiriman ke Tumpang, Kabupaten Malang ada 4.000 bibit," katanya.
Meski demikian, dia tidak memungkiri modal yang dikeluarkan memang tidak kecil. Untuk lahan yang di Kelurahan Sisir saja, dia mengeluarkan modal Rp 750 juta. Tetapi dia memprediksi dalam kurun waktu satu tahun ke depan akan balik modal. "Setiap bibit pohon yang dijual sekitar Rp 30 ribu umur tujuh bulan yang sudah diberi mata tempel (jenis jeruknya), sebelumnya dari bibit muda saya beli Rp 9 ribu di petani mitra lainnya, kemudian saya besarkan lagi," ujar Biyanto.
Jika serius, Biyanto optimistis Pemkot Batu melalui Dinas Pertanian Kota Batu mampu untuk membantu target 1 juta bibit dari Kementan. Caranya yakni dengan memanfaatkan lahan tidur atau tidak terpakai milik Pemkot Batu atau Pemerintah Desa untuk dijadikan tempat-tempat pembibitan jeruk. "Yang katanya Pak Mentan dalam kurun waktu tiga tahun sangat mungkin bisa tercapai. Kemudian pemberdayaan kepada petani dan masyarakat lainnya juga harus dikuatkan," kata dia.
Dia mengungkapkan, saat ini sudah bukan waktunya untuk bersikukuh membangkitkan pertanian Apel Batu. Iklim yang sudah tidak sesuai menjadikan komoditi Apel Batu susah untuk menguntungkan para petani.
"Untuk Apel pohonnya rata-rata sudah tua berusia puluhan tahun, saya itu punya lahan Apel dalam sekali panen modalnya Rp 45 juta tapi baliknya hanya Rp 18 juta, itu 350 pohon Apel rugi," ujarnya.
Sementara satu pohon Jeruk Siam Madu berumur empat tahun dalam setahun bisa menghasilkan 100 kilogram. Sedangkan harga Jeruk Siam Madu saat setiap kilogramnya yakni Rp 10 ribu. "Apel Batu itu setiap pohon dalam waktu enam bulan hanya menghasilkan 20 kilogram saja, susah memang," katanya. Secara kuantitas, produksi jeruk lokal juga tidak kalah dengan Tiongkok.
Ke depan, Biyanto berencana untuk berkoordinasi dengan Komisi B DPRD Kota Batu untuk pengembangan komoditi jeruk di Kota Batu. Hal senada juga diungkap Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Batu Sugeng Pramono. Dia mengatakan, pihaknya akan mendukung program dari Kementan. DPKP Kota Batu juga akan menyiapkan lahan tempat-tempat pembibitan Jeruk. "Bisa bermitra dengan masyarakat misal di pekarangan rumahnya," ujarnya. (nug/lid/rmc) Editor : Farik Fajarwati