Dalam kunjungan hari itu, Angkie juga memastikan bahwa Herlin siap mengikuti pameran UMKM dalam rangka event internasional W-20 pada 8-9 Maret di Golden Tulip Holland Resort.Tentu saja Herlin sangat senang.Dia bahkan sudah menyiapkan baju adat Makassar atau Baju Bodo untuk dibawa ke arena pameran.
Saat hari pameran itu tiba, Herlin memboyong 10 pasang Baju Bodo dengan beragam warna.Sangat mencolok dan mengundang perhatian dari delegasi W-20 maupun pengunjung pameran.Bahkan ada empat pengunjung yang memaksa untuk membeli satu set baju adat tersebut.Namun dengan berat hati Herlinmenolak. Sebab yang dia pamerkan itu sudah dipesan orang lain.
”Saya tidak menyangka dikunjungi Stafsus Presiden Angkie Yudistia yang saat itu bersama Chairwomen W-20 Hadriani Uli Silalahi. Langsung ke rumah saya. Sampai sekarang rasanya seperti mimpi,” jelas Herlin menggunakan bisindo atau bahasa isyarat yang diterjemahkan oleh suaminya, Ujang.
Ujang sebenarnya juga penyandang tunarungu.Namun dia masih bisa melafalkan percakapan seperti orang normal sekaligus mengerti bahasa isyarat. Herlin menjelaskan, baju-baju adat yang dia pamerkan pada event W-20 adalah pesanan Eni. Herlin menyebut Eni sebagai bosnya yang berada di Makassar. Eni pula yang secara rutin memesan Baju Bodo ke Herlin sejak 2021. Hingga kini, sudah sekitar 50 pasang Baju Bododia dikirim ke Makassar.
”Pengunjung di pameran itu akhirnya tetap minta dibuatkan Baju Bodo,” papar perempuan 54 tahun itu. Saat JawaPos Radar Malang mengunjungi ke rumah Herlindi Kelurahan Sisir, Kota Batu, tampak gulungan kain berwarna-warni di ruang tengah. Ada pula dua buah mesin jahit. Baju Bodo yang sudah selesai tertata rapi di samping gulungan kain. Sebagian sudah terlipat dan dikemas dalam plastik, sebagian lagi digantung agar terlihat bentuknya.
Untuk menjahit Baju Bodo, Herlin mengaku perlu keahlian dan ketelatenan. Pasalnya baju tersebut terdiri atas tiga lapis. Di antaranya, kain furing, kain keras, dan kain satin.Ketiganya harus dijahit bersamaan dan disejajarkan agar hasilnya lurus. ”Kalau menjahit baju biasa saya hanya membutuhkan waktu 2 sampai 3 hari saja. Tapi kalau menjahit baju adat ini, saya membutuhkan waktu 6 sampai 7 hari. Prosesnya rumit,” imbuh perempuan kelahiran Kota Surabaya itu.
Proses menambahkan manik-manik dan hiasan di baju juga menjadi salah satu penyebab Herlin membutuhkan banyak waktu. Sebab, manik-manik dan hiasan tersebut harus ditambahkan satu persatu secara manual. Begitu pula dengan sarung yang menjadi setelan baju tersebut. Harus diberi hiasan satu persatu secara manual pula.
Hampir semua baju adat itu dikerjakan sendiri oleh Herlin. Biasanya dia memulai pekerjaan pukul 10.00 pagi hingga tengah malam, sambil sesekali beristirahat. Namun saat weekend, Herlin dibantu oleh Ujang yang libur bekerja. ”Suami saya bekerja di bagian gudang PT Maspion di Sidoarjo sejak 1992,” terang Herlin.
Terkadang Herlin juga dibantu anak semata wayangnya, Siti Hapzah Hadiallah, yang kini mulai memiliki kesibukan sendiri karena kuliah di Universitas Muhammadiyah Malang.”Hapzah biasanya bantu-bantu menggambar pola di atas kain. Kalau suami saya biasanya bantu motong kain,” kata Herlin.
Apa yang dicapai Helin saat ini merupakan hasil belajar yang cukup lama.Dia pertama kali belajar menjahit pada 1989 dari kakaknya yang juga penyandang disabilitas.Ketika masih tinggal di Surabaya, Herlin sudah bisa menjahit boneka dan dijual ke seluruh Indonesia.
Harapan terbesarnya saat ini adalah bisa mengikuti ajang pameran hingga ke luar negeri.Karena itu dia bergabung dalam komunitas Kriya Kain Kota Batu yang sudah terbiasa menggelar pameran. Herlin juga berniat untuk membuka sekolah menjahit bagi siapapun yang berminat.
”Baik normal maupun disabilitas, saya akan menerima semua yang ingin belajar di sini. Karena saya ingin melihat semua orang bisa mandiri dengan keterampilannya,” pungkas Herlin.(*/fat)
Pewarta: ALIFIANI KURNIA RISDIANTI
Editor : Mardi Sampurno