Wakil Ketua Kelompok Tani Maju Bersama Desa Tulungrejo Arrochman Mustofa mengatakan, pada awal sosialisasi mengenai cold storage, kelompok taninya hanya diberikan jatah penyimpanan hanya 3 ton. Sehingga hal itu dianggap percuma karena tak bisa mengakomodir hasil panen seluruh anggota dalam kelompok taninya. “Saya minta ke dinas itu jatah penyimpanan 50 ton tapi belum ada tanggapan. Dan sepertinya tawaran jatah simpan itu juga sudah dioper ke kelompok tani lain karena di sini menolak dengan jatah tersebut,” bebernya.
Arrochman mengatakan, pihaknya memang membutuhkan cold storage untuk menyimpan hasil panennya. “Apel itu nggak ada musim panen, selalu panen pokoknya. Tapi kalau sedang panen bareng otomatis harga anjlok. Karena hasil banyak tapi permintaan di pasar nggak seimbang,” urai dia. Untuk itu, harapan terbesarnya dari adanya cold storage, dinas terkait bisa mengendalikan harga komoditas pertanian saat tiba panen raya. Dengan begitu, perlindungan pada harga bisa jelas terjadi. Dengan demikian dia mengatakan jika pihaknya juga setuju dalam pembangunan tersebut. “Karena yang kita butuhkan itu hasil panen kita dibeli,” tegas dia. Dengan begitu, pihaknya ingin agar cold storage segera di-clear-kan bagaimana nanti skema penerimaannya. Agar, hal yang diharapkan petani di Kota Batu bisa memberikan manfaat pada petani sendiri.
Sementara itu, rencana pembangunan cold storage yang diusulkan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu mendapatkan tanggapan yang serius dari DPRD Kota Batu. Hal itu mengenai perencanaan pembangunan itu. Dewan mewanti-wanti agar segala perencanaan harus dilakukan secara matang. Mengingat cold storage jelas akan dibutuhkan oleh orang banyak khususnya para petani. Kekhawatiran tersebut muncul, karena perencanaan pembangunan itu merupakan hal yang krusial. “Nanti di dalam itu kan membahas tentang detail bangunan, kapan dibangun, hingga berapa kapasitas yang bisa ditampung. Itu semua harus dipikirkan secara matang,” ungkap Wakil 1 DPRD Kota Batu Nurochman pada wartawan koran ini Selasa (12/4).
Tak hanya itu, sebelumnya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Batu melalui sekretarisnya Heru Purwanto mengatakan jika dinas yang akan membeli hasil komoditas pertanian. “Ini kan harus direncanakan secara matang juga. Apalagi menyediakan anggaran khusus untuk pembelian kan nantinya. Apa itu bakal memengaruhi anggaran lainnya atau bagaimana ya harus diperhitungkan,” imbuh politisi fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini. Pihaknya juga mengingatkan tentang sistem manajerial di cold storage nanti. Sebab hal itu masih baru di Kota Batu. Sehingga harus benar-benar memperhatikan kualitas SDM yang mendukung di dalamnya.
Terakhir, dalam pembangunan tersebut, pihaknya juga menanyakan terkait alur pembelian pasca panen. “Apa saja komoditas yang boleh masuk di sana,” tanya dia. Sebab pemetaan sejak dini tersebut harus dilakukan, guna menghindari konflik antara petani dan pemerintah. Dengan begitu juga, diharapkan agar tak ada rasa iri antara petani satu dengan petani lainnya yang hasil panennya bisa masuk ke cold storage. “Yang tidak kalah pentingnya itu pasar untuk berjualan. Kalau dinas terkait masih belum ada pasar untuk penjualan, lha terus gimana nanti nasibnya barang-barang yang diawetkan di cold storage,” tutur pria yang akrab disapa Cak Nur ini. (fif/lid)
Editor : Mardi Sampurno