Ketua penyelenggara lomba kicau burung Bambing mengatakankegiatan ini diadakan jika ada waktu senggang yakni sekitar satu bulan sekali. Secara teknis, ada beberapa kelas dalam perlombaan ini. Yaitu, kelas burung lovebird maksimal poin (MP) 50, MP 80, MP 100, MP 200, lovebird fighter, dan reguler. “Jadi MP ini adalah kelas-kelas poin yang harus dicapai. Sedangkan lovebird fighter itu dinilai dari durasi kicauan terpanjang," terangnya.
Bambing menyatakan, kelas perlombaan lovebird fighter ini dinilai unik dan langka. Sebab, tidak semua burung dapat berkicau dengan durasi yang lama. "Ya, ada yang berkicau selama 30 detik hingga 1 menit. Jika ada burung yang berkicau lebih dari 1 menit pun itu luar biasa," ujarnya.
Saat ditanya tantangan penjurian lomba kicau burung di kelas lovebird fighter, dia menyebut, penjurian ini memerlukan kepekaan dan butuh jam terbang. "Jadi, kami harus bisa menemukan kicauan burung mana yang memiliki power dan variasi terbaik. Apalagi, untuk mendengarkan kicauan burung terpanjang ini dilihat dari ketukan dan timer," imbuhnya lagi.
Sementara itu, salah seorang peserta lomba dalam kelas lovebird fighter Fendi Agustian mengungkapkan, melatih burung lovebird agar berkicau itu tidak mudah. Pasalnya, ada yang sebutannya single (dapat berkicau sendirian) atau bahkan harus ada couple (pasangannya) baru mulai berkicau.
"Dari pengalaman saya, burung lovebird ini bisa berkicau 40 hingga 45 detik. Bahkan, kalau terlama itu bisa mencapai 1 menit. Alasan saya mengikuti perlombaan ini untuk mewujudkan rasa kepedulian terhadap pelestarian lingkungan agar burung berkicau tidak punah," tutup warga Desa Giripurno ini. (ifa/lid). Editor : Mardi Sampurno