Alasannya, memetik buah di sore hari dinilai lebih segar untuk disimpan hingga keesokan harinya. Diungkapkan petani stroberi Sholikin, panen raya untuk stroberi dimulai sejak Agustus hingga September mendatang. “Saat memasuki musim kemarau seperti ini, produksi stroberi berlimpah. Yang normalnya 20 kilogram per hari, sekarang mencapai 50 kilogram per hari,” ucapnya.
Sholikin menjelaskan, pengaruh cuaca sangat memengaruhi kualitas tanaman stroberi. “Jika musim hujan itu otomatis tanaman stroberi banyak yang rusak. Kalau saat musim kemarau apalagi panen raya, kualitas buahnya lebih besar dan jumlahnya banyak,” jelasnya sambil memetik stroberi di lahan miliknya.
Petani lainnya Takim mengatakan, panen raya memang adalah momen yang paling dinanti oleh para petani. Sebab, demi panen raya petani harus menanti selama 3 bulan. “Jadi, memang kondisi suhu sekitar 18°C sangat pas. Sehingga, dapat dikatakan produksi stroberi sedang bagus-bagusnya,” ujarnya.
Pihaknya mengaku, momen panen raya stroberi ini dapat menguntungkan para petani. “Kalau harga jual stroberi kepada tengkulak masih stabil. Yakni Rp 25 ribu per kilogram. Namun, kalau misalnya pesanan dari luar kota sedang meningkat, saat panen raya harga jualnya bisa dua kali lipat,” kata Takim.
Dia juga menyatakan, para petani stroberi harus punya antisipasi saat momen panen raya. Sebab, jika produksi berlimpah, otomatis penjualan pun harus cepat. “Keinginan petani itu hanya satu saat panen raya yaitu penjualannya lancar. Karena memang, di Desa Pandanrejo ini belum ada wadah pengelolaan terpusat misalnya stroberi dijadikan selai. Untuk itu, buah stroberi yang sudah dipanen harus segera diamankan ke dalam lemari pendingin atau bentuk frozen agar tahan lama,” tutupnya. (ifa/lid) Editor : Mardi Sampurno