Menurut penanggungjawab Alun-Alun Kota Batu Ifan Afandi, tim teknisi selalu melakukan pengecekan rutin sebelum wisatawan datang untuk naik bianglala. “Setiap pagi pasti ada teknisi yang naik buat ngecek kondisi mesinnya,” kata dia. Ifan mengatakan perlunya uji kelayakan mesin terlebih dahulu untuk mengetahui perlu tidaknya pergantian mesin.
Dikatakannya, ketika pertama beroperasi, alunalun masih dikelola oleh lembaga. Dan saat ini pengelola alun-alun di bawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu. Yang menjadi pertanyaan, apakah sudah pernah dilakukan uji kelayakan dalam pengoperasian bianglala baru-baru ini. Tapi untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, pihak operator menyiasati dengan memberi jarak per satu kabin.
Sementara itu, menurut salah seorang teknisi Darmaji, siasat itu dilakukan agar seimbang dan aman. “Ya ini kan menyangkut nyawa orang, ya jadi ya kita buat kayak gini,” ujar Darmaji yang juga kepala teknisi bianglala.
Tak hanya mesin, kondisi kabin bianglala menurut dia juga memprihatinkan. Banyak cat yang telah mengelupas. Tangga untuk naik ke bianglala juga tampak berkarat. Selama ini pihak pengelola alun-alun rutin melakukan pengecatan saat dirasa sudah banyak pengelupasan. Namun, warna cat baru tidak bertahan lama.“Tapi baru berapa bulan udah gini lagi. Sampai bingung mau diapain lagi, ya terus ngelupas gini sih,” imbuh Darmaji. (cr4/lid) Editor : Mardi Sampurno