Diungkapkan Ketua 9 Jalur Angkutan Umum Kota Batu Heri Junaedi, kenaikan harga BBM jelas berpenga ruh pada penda patan para sopir angkot. “Kondisi sekarang itu penumpang sepi. Urusan penghasilan, sopir harus membayar setoran dan mencukupi tangki bensin,” jelasnya.
Heri mengatakan, sepinya penumpang angkutan umum ini dikarena kan anak sekolah memilih diantar-jemput, membawa kendaraan sendiri, atau ojek. Padahal, harapan satu-satunya bagi penambahan penghasilan para sopir angkot itu dari anak sekolah.
“Sekarang para sopir angkot hanya bergantung pada jam pulang sekolah pelajar. Sedangkan, sewa angkutan umum (carteran) untuk berwisata sudah jarang,” ungkap Bendahara Organisasi Angkutan Darat (Organda) ini.
Menurut Heri, kenaikan BBM ditambah sepinya penumpang menjadi dampak yang memprihatinkan. Apalagi, hal tersebut menyangkut nasib sekitar 350 sopir angkutan umum di Kota Batu. “Langkah yang kami ambil saat ini adalah menaikkan tarif angkutan umum. Namun, tetap koordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dis hub) Kota Batu. Sebab, pertimbangannya yaitu ada jalur yang menempuh perjalanan cukup jauh. Contohnya, Batu-Selecta-Sumberbrantas, lalu Batu-Landungsari, dan sebagainya,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Batu, kemarin (11/9).
Pihaknya memaparkan, tarif jarak dekat untuk umum semula Rp 4 ribu naik menjadi Rp 5 ribu. Sedangkan, tarif pelajar dari Rp 3 ribu menjadi Rp 4 ribu. “Nah, di setiap pintu angkutan umum juga sudah terpasang tarif lengkapnya, penumpang bisa mengecek sendiri,” imbuh Heri.
Sebagai informasi, tarif Batu-Selecta mencapai Rp 7 ribu untuk umum dan Rp 4 ribu bagi pelajar. Sedangkan, Batu-Jurangkwali yaitu Rp 10 ribu untuk umum) dan Rp 8 ribu untuk pelajar. Selain itu, rute Batu-Karangploso untuk masyarakat umum mencapai Rp 7 ribu dan pelajar cukup membayar Rp 5 ribu. Sedangkan untuk Batu-Landungsari untuk umum yang sebelumnya Rp 4.000 kini naik jadi Rp 5.000, sedangkan untuk pelajar dari Rp 3.000 naik jadi Rp 4.000.
Sementara itu, salah seorang sopir angkutan Agus Suyanto mengatakan, kenaikan tarif mulai disadari oleh masyarakat Kota Batu. Akan tetapi, kondisi penumpang masih sepi. “BBM naik, penumpang semakin habis. Belum biaya bensin jalur Batu-Selecta 2 kali pulang-pergi (PP) Rp 40 ribu. Lalu, setoran Rp 35 ribu per hari,” ucapnya.
Pria yang dikenal Agus ini mengaku, sepinya penumpang setelah BBM naik berpengaruh pada pendapatan bersih. “Terkadang dalam sehari saya mendapat Rp 100 ribu dan harus dibagi dua hal. Yakni, bensin Rp 40 ribu, setoran sejumlah Rp 35 ribu, dan Rp 25 ribu untuk kebutuhan sehari-hari. Itupun nggak cukup,” jelas sopir jurusan Batu Selecta-Sumberbrantas ini. (ifa/lid) Editor : Mardi Sampurno