Makam Dinger merupakan salah satu situs cagar budaya di Kota Batu yang terawat dengan baik hingga sekarang. Bangunan bekas makam itu kokoh berdiri, namun cat warna putihnya memudar. Area sekitar bangunan ini cukup ramai lalulalang pengendara, karena lokasinya tepat di pinggir jalan.
Juru kunci bangunan Makam Dinger Deni Irianus mengatakan, dahulu bangunan ini adalah kompleks makam milik orang Belanda yakni keluarga Dinger. “Ya, buktinya di atas pintu bangunan ini tertulis “Graf Familie Dinger” yang artinya makam keluarga Dinger dan tulisan anno 1917 yaitu tahun 1917 (diperkirakan penanda tahun penguburan),” terangnya.
Sebagai informasi, area makam ini adalah milik Jan Dinger, orang Belanda yang menjadi tuan tanah dari berbagai kebun gula, teh, kopi, kina, dan sebagainya. Untuk itu, Jan Dinger ingin dimakamkan di lahan pertanian miliknya (Tulungrejo).
Pria yang akrab dikenal Deni ini menjelaskan, hampir setiap minggu selalu ada kunjungan dari warga Kota Batu, mahasiswa, hingga beberapa yang ingin foto pre wedding. “Setiap ada yang berkunjung pasti izin kepada saya. Sebab, memang area dalam bangunan ini saya kunci agar tetap aman dan tidak rusak,” ujarnya.
Pihaknya mengaku, sebelum dia menjadi juru rawat atau kunci ada oknum yang mengambil patung dan keramik di dalam Makam Dinger ini. “Sekarang kalau saya biarkan pintunya terbuka lebar. Saya khawatir, situs cagar budaya ini rusak dan anak cucu kita tidak mengetahui sejarah,” jelas Deni sambil menunjukkan keramik yang hilang di dalam bangunan ini.
“Yang dapat saya lakukan adalah melakukan perawatan setiap minggunya. Mulai dari memangkas rerumputan. Kalau urusan pengecatan harus izin pihak purbakala Jakarta,” sambungnya lagi. (ifa/lid) Editor : Mardi Sampurno