Diungkapkan oleh Forecaster BMKG Stasiun Klimatologi Malang Melani, kabut yang terjadi di Kota Batu sebenarnya adalah hal biasa. Sebab, kabut dapat terbentuk pada tempat yang tinggi. “Saat angin lembah berhembus ke arah yang tinggi akan mendorong lapisan udara hangat naik ke tempat yang lebih tinggi,” jelasnya.
Lanjut Melani, saat udara naik suhunya akan turun. Karena semakin tinggi, suhu udara semakin rendah. Selain itu, saat mencapai titik embunnya proses kondensasi (perubahan fase uap air menjadi cair) kembali terjadi, maka terbentuklah kabut. “Jadi, kabut tebal pun kemungkinannya bisa terjadi saat malam hari. Akan tetapi, semua tergantung pada arah angin,” imbuhnya.
Karena adanya kabut tebal tersebut, maka jarak pandang para pengendara menjadi terbatas. Bahkan, tampak beberapa pengendara mulai melambatkan laju kendaraannya. Sebagian mulai menyalakan lampu kota di kendaraannya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Agung Sedayu menyampaikan, fenomena turunnya kabut tebal menjadi hal yang wajar setelah hampir seharian turun hujan. Apalagi, BMKG telah merilis musim hujan tahun ini terjadi lebih awal. “Kami mengimbau masyarakat untuk waspada. Kabut ini terjadi karena suhu turun menjadi dingin. Kabut yang turun ini sering terjadi di Kota Malang pada tahun 70 hingga 80-an,” tutup dia.
Sementara itu, dalam seminggu terakhir cuaca di Kota Batu sering hujan mulai pagi hingga sore dan malam. Untuk itu, kepada warga Kota Batu yang tinggal di dekat aliran sungai dan di dekat tebing diminta lebih berhati-hati. Karena kondisi cuaca saat ini sering turun hujan. Sehingga ancaman bencana banjir dan longsor masih mengintai kota pariwisata ini. (ifa/lid) Editor : Mardi Sampurno