Wakil Wali Kota Batu Punjul Santoso mengungkapkan, pada akhir November lalu, Askot PSSI Batu bersama beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Batu telah melakukan studi banding untuk melihat stadion mana yang luas dan konsepnya cocok untuk Kota Batu.
“Akhirnya, kami merasa cocok dengan konsep Stadion Manahan Solo. Apalagi, stadion tersebut telah memenuhi standarnya piala dunia,” terangnya.
Punjul menjelaskan, sebanyak 17 hektare di Stadion Manahan Solo dibuat kawasan yang menarik. Tepat di sebelah kanan-kirinya ada tempat basket, futsal, tenis, dan sebagainya. “Sebenarnya, kalau Stadion Gelora Brantas Batu nantinya tidak harus sama persis seperti Solo. Minimal mirip dan kami telah minta blueprint-nya,” jelasnya.
Dia mengaku, anggaran pembangunan Stadion Manahan Solo mencapai Rp 300 miliar. Sedangkan, anggaran untuk pembangunan Stadion Gelora Brantas Batu pun masih disesuaikan dan pastinya tidak sebanyak anggaran Stadion Manahan Solo.
“Paling tidak minimal standarnya mirip. Misalnya tribunnya tidak keseluruhan lalu pintu barat yang biasanya memiliki kecuraman tinggi harus dipikirkan,” beber Punjul.
Menurutnya, area bawah tribun pun nantinya dapat dimanfaatkan KONI Batu sebagai kantor cabang olahraga (cabor) yang ada di Batu. “Kalau perlu Stadion Gelora Brantas menjadi tempat para UMKM bertumbuh,” tambah Punjul.
Sementara itu, Pemkot Batu bersama Ikatan Arsitek Indonesia Jawa Timur dan wilayah Malang telah selesai melakukan penjurian terhadap gagasan desain Stadion Gelora Brantas.
Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menilai, hasil desain para peserta patut diapresiasi. Sehingga, desain stadion yang akan dibangun nantinya bisa menjadi wajah baru Kota Batu. “Kita tidak akan bisa membuat sesuatu yang sempurna, tapi semoga stadion yang akan dibangun ini nantinya bisa mendekati sempurna,” harap dia.
Sebagai informasi, desain Sasana Padu-Stadion Brantas Batu telah ditetapkan sebagai juara pertama dan berhak meraih hadiah senilai Rp 50 juta. Sedangkan, dengan hasil ini, tahun 2023 akan dilakukan pembahasan detail engineering design (DED) pembangunan. (ifa/lid) Editor : Mardi Sampurno