Kalahnya persaingan Coban Talun itu ditengarai karena wisata tersebut tidak memberikan sesuatu yang baru bagi wisatawan. Sehingga jumlah wisatawan yang datang tidak bisa meningkat tajam. Hal ini berbeda dengan wisata alam lainnya yang terus bersolek dengan menambah wahana-wahana baru. Sehingga tingkat kunjungannya meningkat.
Untuk mengejar ketertinggalan ini, Pemerintah Desa Tulungrejo, berencana akan mengembangkan wisata Coban Talun dengan menyiapkan dana sekitar Rp 5 miliar. Dana itu akan digunakan untuk mempercantik tempat wisata tersebut.
Kepala Desa Tulungrejo Suliono menjelaskan, rencananya ada beberapa hal yang akan dibenahi. Seperti taman bunga, permainan anak-anak, pasar wisata, wahana dan memperluas lahan parkiran, hingga menambahkan fasilitas air hangat pada toilet-toilet.
“Konsepnya, tetap wisata alam dan tidak akan mengubah apapun, hanya melengkapi saja supaya minat masyarakat berkunjung lebih tinggi,” kata Suliono. Anggaran sebesar Rp5 miliar itu akan dipersiapkan dari APBDes dan investor-investor lokal.
“Di sekitar Batu ini sudah banyak wisata alam yang kondisinya lebih baik. Di antaranya Coban Rondo, Coban Rais yang memiliki fasilitas lebih. Sehingga lebih baik kami juga meningkatkan pelayanan kepada wisatawan,” tutur Suliono.
Terpisah, Supervisor Site Coban Talun Sugeng Priyanto mengatakan, saat ini rata-rata pengunjung yang datang di hari kerja sekitar 100 orang setiap harinya. Sedangkan saat akhir pekan pada Sabtu dan Minggu bisa mencapai 500 orang setiap harinya. “Pengunjung yang datang saat ini masih didominasi dari wilayah Malang Raya, dan daerah Jawa Timur lainnya,” tuturnya.
Sugeng juga mengakui, selama pandemi hingga sekarang belum ada hal baru yang ditawarkan oleh Coban Talun. Menurutnya, ini berbanding terbalik dengan wisata buatan, yang setiap tiga bulan sekali mengeluarkan wahana anyar. Sehingga, jumlah kunjungan mereka tetap tinggi. “Karena ini masih peralihan jadi belum banyak yang baru. Mungkin tahu depan,” pungkasnya. (adk/lid) Editor : Mardi Sampurno