Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kampung Hendrik Lahir dari Kedermawanan Tuan Hendrich

Mardi Sampurno • Kamis, 5 Januari 2023 | 23:16 WIB
Photo
Photo
KAMPUNG Hendrik termasuk ka wasan permukiman padat penduduk. Banyak gang-gang sem pit di wilayah itu yang saling ter sambung satu sama lain. Tampak tak ada jarak antara satu rumah de ngan rumah yang lain.

Jalan utama kampung tersebut hanya bisa dilalui satu mobil saja. Jika berpapasan, harus ada satu kendaraan yang mengalah. Saat ini, kampung yang melingkupi tujuh RT itu dipimpin Ketua RW 10 Kelurahan Ngaglik. ”Kebetulan” namanya Hendrik Sugianto. Inspirasi nama Kampung Hendrik berawal dari warga Belanda yang bernama Tuan Hendrich. Ejaan asing itu kemudian diadaptasi ke Bahasa Indonesia menjadi ”Hendrik”. Penamaan itu bermula dari kebaikan Tuan Hendrich yang memberikan tanahnya secara gratis kepada warga yang pertama kali mendiami kawasan tersebut. ”Itu dari cerita bapak saya yang merupakan warga pertama di kawasan ini.

Penamaan Kampung Hendrik sekaligus sebagai penghargaan kepada Tuan Hendrich karena kebaikannya kepada kami,” jelas Hendrik Sugianto. Dia menjelaskan, kampung itu sudah ada sejak 1960. Ulang tahunnya diperingati setiap 7 Januari. Awalnya hanya ada lima warga yang menempati kampung itu setelah mendapat pemberian tanah dari Tuan Hendrich. Salah satunya bernama Asnari yang merupakan ayah dari Hendrik Sugianto. Asnari pernah menjadi wakil ketua RW mulai 1960 hingga 1966. Setelah menjadi wakil, Asnari didapuk menjadi Ke tua RW Kampung Hendrik selama 30 tahun. Mulai dari 1966 hingga 1996.

”Kami menggunakan nama Kampung Hendrik sejak 1960 sampai sekarang,” terangnya. Yang tak kalah menarik, ada cerita bahwa Kampung Hendrik sempat dipaksa mengganti namanya. Alasannya, nama kampung seperti itu terkesan asing dan ada ”bau” Belanda. Namun Asnari dan Hendrik Sugianto bersama warga kampung bersikeras mempertahankan nama tersebut. Mereka bahkan sempat diancam akan dikeluarkan oleh pihak Kelurahan Ngaglik jika tak mau mengganti nama. ”Sampai ada keributan dan akhirnya konflik itu terbawa sampai sekarang. Meskipun saya sebagai RW, hubungan dengan kelurahan tidak begitu akrab,” terang pria yang juga penggila olahraga sepak bola itu.

Bagi masyarakat di sana, meskipun Tuan Hendrich merupakan warga Belanda, namun sosok itu dianggap memiliki jasa besar. Terutama karena memberikan tanahnya secara gratis kepada pendahulu Kampung Hendrik. ”Sampai kapan pun wilayah ini ti dak boleh berganti nama, ka rena ini bentuk penghargaan kami,” tegas Hendrik. Dia juga mengklaim semua orang di wilayah Batu sudah mengerti tentang keberadaan kampung tersebut. Sebab, pada zaman dulu Kampung Hendrik termasuk salah satu tempat utama kegiatan masyarakat Kota Batu.

Misalnya untuk kegiatan olahraga sepak bola dan voli. Warga dari Kelurahan Sisir dan Pesanggrahan biasanya bergabung ke Kampung Hendrik. Hal unik lain yang bisa ditemui di wilayah tersebut adalah penamaan gang yang menggunakan nama-nama pendiri kampung. Di antaranya, Gang Saprawi, Gang Asnari, dan Gang Doladi. ”Pemuka agama Katolik dan penulis terkenal Romo Sindhu itu juga lahir di Kampung Hendrik,” tambahnya. Sejarah penamaan Kampung Hendrik pernah ditulis Drs M. Dwi Cahyono MHum melalui buku berjudul Sejarah Daerah Batu, Rekontruksi Sosio-Budaya Lintas Masa. Disebutkan bahwa asal mula Kampung Hendrik terinspirasi dari nama tuan Belanda bernama Mr Henrich.

Keberadaan Mr Henrich di Batu seiring dengan perkembangan ekonomi dan bertambahnya luas areal perkebunan. Pada saat itu banyak bermunculan juragan-juragan bisnis dan pertanian yang dari kalangan asing. Dalam buku itu, Mr Henrich diceritakan berprofesi sebagai petani dan peternak sapi di Kelurahan Ngaglik. Berkat kedermawanan menghibahkan tanah miliknya, warga mengabadikan nama Henrich menjadi identitas wilayah tersebut sampai saat ini. Mr Henrich juga diceritakan sebagai pengusaha sukses yang memiliki banyak peternakan sapi di Kota Batu. Salah satu kandang sapi terbesar milik Henrich berada di sebelah barat Alun-Alun Kota Batu. Kandang itu masih sempat eksis hingga 1980-an. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno
#Kampung Hendrik berawal dari warga Belanda yang bernama Tuan Hendrich #Kota Batu #Kampung Hendrik