Kemudian 2019 terjadi 98 bencana dan tahun 2020 114 bencana. Bertambah lagi di tahun 2021 ada 154 kejadian. Sedangkan, bencana yang paling menimbulkan dampak besar yakni banjir bandang Desa Bulukerto setahun yang lalu. Kepala BPBD Kota Batu
Agung Sedayu mengatakan, di tahun 2022 ini, bencana di Kota Batu rata-rata terjadi pada Oktober-November saat cuaca ekstrem. Sehingga ini wajib menjadi sinyal darurat bencana di Kota Batu dan harus dilakukan pencegahan. Karena puncak musim hujan diprediksi jatuh pada bulan Januari 2023. ”Bencana masih didominasi tanah longsor. Kemudian ada banjir, angin kencang atau cuaca ekstrem dan tanah bergerak.
Selain itu ada pohon tumbang dan kebakaran,” ujar Agung. Untuk mengantisipasi bencana yang lebih banyak. Agung sudah merekomendasikan berbagai langkah mitigasi, agar dampak bencana bisa diminimalisir. ”Mitigasi pencegahan itu perlu mengingat prediksi cuaca ekstrem saat musim hujan dari tahun ke tahun semakin meningkat,” ujarnya.
Mitigasi yang dilakukan seperti memetakan titik rawan longsor di Kota Batu. Di mana ada tujuh titik, di antaranya Giripurno dan Kelurahan Songgokerto, di Desa Gunungsari, Bumiaji, dan Sumberbrantas. Antisipasi juga dilakukan dengan memasang penambahan dua alat early wearing system (EWS) di akhir tahun 2022 lalu. “Lima EWS dipasang pada tahun 2020 dan lima EWS dipasang tahun 2021. Dua yang baru dipasang di Dusun Claket, Desa Gunungsari dan Desa Sumberejo,” jelas Agung. (adk/lid) Editor : Mardi Sampurno