Kepala Desa Tlekung Mardi mengatakan, pada dasarnya keluhan masyarakat adalah ingin kawasan penduduk tidak bau sampah. Selain itu, warga menginginkan agar tumpukan sampah di TPA Tlekung dikelola dengan maksimal.
"Saya masih ingat Februari 2022 lalu, Pemerintah Kota Batu berjanji kepada warga bahwa sampah di TPA segera dikelola dan menghasilkan pupuk. Namun, sampai satu tahun belum ada realisasinya," ungkapnya.
Menurutnya, jika sampah dikelola dengan baik lalu pupuk diberikan kepada masyarakat maka tentu sangat bermanfaat. Dia menjelaskan, akhir-akhir ini pihaknya melakukan rapat dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu dan Penjabat (Pj) Wali Kota Batu.
"Poin yang diusulkan itu ada beberapa hal. Mulai dari penambahan tanaman bunga sedap malam untuk meminimalisir bau. Kalau konsepnya bunga sedap malam ini akan dipasang di sekitar TPA hingga Jalan Raya Tlekung," katanya.
Rencana penambahan tanaman bunga sedap malam ini justru dikritisi oleh salah satu warga, Riono. Menurut dia, jika tampilan luarnya saja yang dipercantik tetapi, sampahnya tidak dikelola itu artinya percuma. "Sudah sejak sebelum 2019, saya punya tanaman sedap malam. Memang kalau malam aroma wanginya bisa keluar. Tapi, urusan sampah TPA Tlekung sudah parah," tegasnya.
Riono menyatakan, yang seharusnya dikelola itu sampahnya agar tidak terus menggunung. "Ya, seharusnya Pemerintah Kota Batu atau dinas terkait fokus menangani gunungan sampah itu. Karena bahaya kalau sampah tersebut sampai longsor maka permukiman warga yang terkena dampaknya," jelasnya.
Dia juga menyoroti, persoalan sampah di TPA Tlekung sudah terbilang parah karena setiap malam hari aliran airnya di drainase berwarna kehitaman. "Kami khawatir kalau air tercemar. Apalagi, di wilayah Gangsiran Putuk, Desa Tlekung ada dua sumur bor. Bahkan, airnya digunakan untuk minum," pungkasnya. (ifa/lid). Editor : Kholid Amrullah