Karena, kini banyak pengunjung yang mengincar sensasi petik apel dari berbagai wilayah di luar Kota Batu hingga mancanegara seperti Malaysia.
Salah satu pemilik wisata petik apel di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Sutomo mengatakan, kebunnya sudah menjadi wisata petik apel sejak tahun 2016 hingga sekarang.
Dia merasakan dinamika pengunjung sebelum pandemi Covid-19 dan setelahnya. "Saat Covid-19, sepi tak ada pengunjung bahkan tutup. Nah, sekarang sudah mulai normal lagi," terangnya.
Sutomo mengaku, jika dulu pengunjung ke Kota Batu menginap lebih lama karena belanja sekitar 2 - 3 hari.
Namun, sekarang hanya satu hari dan langsung pulang. "Kalau pengunjung didominasi keluarga.
Ada juga rombongan anak sekolah. Tapi, ada juga dari wisatawan Malaysia. Kalau dalam negeri kebanyakan Jawa Tengah dan Kalimantan," bebernya.
Dia menyebut, awal tahun 2023 justru banyak rombongan asal Kalimantan yang ingin mencoba sensasi petik apel.
|Baca Juga :
Wisata Petik Apel Diminati, Tapi Panen Makin Kritis
Mayoritas mereka ingin memetik apel langsung dari kebun dan belajar edukasi tentang pertumbuhan apel. Mulai dari penanaman hingga perawatan secara keseluruhan.
Saat ditanya kendala yang dihadapi oleh para petani apel, dia menyampaikan cuaca ekstrem terutama hujan membuat hama lalat buah menyerang. (Bersambung di halaman selanjutnya)
"Nah, makanya di sini banyak buah apel yang dibungkus agar lalat buah tidak masuk. Akibat dari hama lalat buah ini banyak apel yang busuk di pohon," kata Sutomo.
Di sisi lain, dia juga berharap, destinasi wisata petik apel bisa bangkit dan mendapat perhatian oleh pemerintah.
"Terus terang saat ini banyak petani apel yang bangkrut. Efek lahan banyak yang sudah rusak hingga tak sanggup dengan biaya apel yang mahal," imbuhnya.
Kepada Kepala Disparta Kota Batu Arief As-Siddiq mengatakan, destinasi wisata berbasis alam khususnya pertanian memang harus dioptimalkan.
Contohnya, petani apel di Kota Batu ini patut diapresiasi karena kehebatannya. "Jika harga apel di pasaran di bawah Rp 10 ribu. Dengan adanya wisata petik apel justru dapat menambah nilai plus," ujarnya.
|Baca Juga :
Pj Wali Kota Usulkan I Meja 1 Apel, untuk Perkuat Branding
Arief menilai, kendala yang dihadapi oleh para petani apel adalah berkaitan dengan pemanasan global.
Sehingga, harus ada langkah strategis untuk mempertahankan apel sebagai ikon Kota Batu. (ifa/lid). Editor : Kholid Amrullah