“Kalau para pembeli jeli, telur tersebut pasti hasil dari sortiran, sedangkan yang kualitas baik telah laku duluan,” katanya. Jika dibandingkan dengan pasaran, biasanya selisih harga telur itu berkisar antara Rp 1.000 hingga Rp 2.000 per kilogram. Sedangkan dilihat dari fisik cangkang telur lebih mudah pecah dan berwarna sedikit keputihan.
Namun, karena masyarakat memang melihat dari sisi harga dan memang kebutuhan pokok saat ini cenderung naik ,maka opsi tersebut tetap diambil. Keluhan lainnya yang dirasakan para peternak ayam petelur di Kota Batu ialah masalah kestabilan harga telur, harga pakan dan faktor modal.
Menurut Rohmat, untuk harga telur seharusnya menyesuaikan dengan harga pokok produksi (HPP). Untuk HPP nantinya terkait dengan harga pakan. Karena di Kota Batu jarang adanya tanaman jagung maka para peternak harus membeli dari luar daerah. ”Masalahnya jagung yang murah sudah diborong para pemilik modal besar, mau tidak mau sampai ke tangan peternak harganya sudah mahal,” jelasnya.
“Kemarin kan pandemi dan para peternak itu istilahnya sudah kehabisan modal untuk memulai lagi,” ujarnya. Pada saat pandemi itu, harga telur jatuh tetapi harga pakan tetap. Sehingga, para peternak memutuskan untuk mengosongkan kandangnya. Dan untuk memulai lagi beternak ayam petelur membutuhkan modal yang tidak sedikit.
Ia juga berharap, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu bekerja sama dengan para peternak lokal dalam menyediakan kebutuhan telur. Jika diajak bekerja sama, pihaknya juga menyatakan sanggup dalam memenuhi spesifikasi telur yang diminta. “Kalau masalah kualitas telur itu bisa disesuaikan,” ungkapnya. Sehingga hal tersebut bisa memberdayakan para peternak ayam petelur. (iza/lid) Editor : Kholid Amrullah