Dalam tulisan tersebut, status menengah ialah, daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Sedangkan tinggi, pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif.
Analis Kebencanaan Ahli Muda BPBD Kota Batu, Sudarwito menjelaskan, untuk potensi tanah gerakan tanah di Kecamatan Bumiaji, terjadi di Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji.
Penyebab potensi gerakan tanah di Dusun Brau ialah banyaknya air yang berkumpul di salah satu titik tersebut. “Lokasinya di sekitar sekolahan,” katanya.
Ia menyebutkan jika di tempat itu terdapat sumber air yang sangat melimpah. Diperkirakan air yang berasal dari gunung, berkumpul di area tersebut. “Penyebab gerakan tanah ditambah, ditambah curah hujan yang tinggi,” katanya.
Kondisi tanah dan batuan yang ada Dusun Brau memiliki porositas dan permeabilitas sangat tinggi, yang meloloskan air hingga 98 persen. Batuan bersifat keras ketika kering namun ketika bertemu air batuan tersebut mudah lolos air dan sangat mudah hancur. Menurutnya, satu kali terjadi penurunan tanah itu tanah bisa turun sekitar satu meter.
Salah satu upaya, yang dilakukan untuk menurunkan tekanan yang terjadi ialah dengan sumur pelega. Pihak BPBD telah membuat sumur pelega sekitar dua buah. Ketika selesai dibuat sumur pelega, air yang berada di dalam tanah itu pun langsung meluber keluar dengan sendirinya.
Saking banyaknya air di tempat itu, di salah satu titik saja dengan penggalian tanah sedalam 1,2 meter air sudah dapat menyembur. Salah satu upaya yang dilakukan ialah BPBD bekerja dengan pihak lain untuk melakukan penelitian “Penelitian PET-Geo: Inovasi berbasis zero waste untuk sistem perkuatan tanah ekspansif, 2023 (joint research Politeknik Jakarta, Politeknik Negeri Malang, BPBD) sedang dalam proses,” jelasnya.
Jika dilakukan pengambilan air secara massive, harus benar-benar memperhitungkan dengan baik. Apabila air dihabiskan akan menciptakan ruang kosong di tanah, dan menimbulkan bencana baru.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Agung Sedayu mengimbau kepada masyarakat di daerah lereng berpotensi tanah longsor adalah meningkatkan kewaspadaan terutama saat musim hujan. “Bisa melihat tanda alam yang terjadi misalnya ada retakan tanah, pohon atau tiang listrik miring,” jelasnya.
Selain itu, warga diharapkan menanam tanaman tegakan di lereng yang memiliki akar yang kuat dan dapat mengikat tanah. Serta melakukan penataan aliran air permukaan yang baik sehingga tidak meresap ke dalam tanah yang ada di lereng. “Bila sudah terpasang alat peringatan dini tanah longsor di lokasi tersebut agar diperhatikan apakah alarm berbunyi atau tidak sebagai tanda ada pergerakan tanah,” tuturnya pada Jumat (9/6). (iza/lid) Editor : Kholid Amrullah