BATU – Sejumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) di Sekolah Luar Biasa (SLB) Eka Mandiri berhasil menuangkan ide kreatifnya pada berbagai media. Beberapa contohnya ialah motif batik dan kain eco print.
Salah seorang guru di SLB Eka Mandiri Batu, Fajar Syamsudin mengungkapkan, untuk kriya batik sudah dilakukan sejak tahun 2014. Kemudian, dibentuklah galeri guna menampilkan berbagai hasil kriya anak-anak. Hingga kini, sudah ada berbagai produk turunan dari kain yang telah digarap oleh siswa.
“Ada sepatu, baju, kerudung, hingga tas,” ujarnya. Produk kain tersebut dikerjakan oleh beberapa siswa kelas vokasi. “Ada sekitar sembilan orang siswa yang mengerjakan, dengan tingkat pendidikan SMP dan SMA,” tuturnya. Dengan berbagai latar belakang, mulai dari disabilitas tuna rungu, tuna daksa, dan autis.
“Untuk batik tulis bisanya yang mengerjakan ialah disabilitas tuna rungu,” tuturnya. Selain batik, ada juga eco print dan sibori, yang pengerjaannya lebih sederhana.
Para siswa biasanya mengerjakan ketika ada ekstrakurikuler di hari Rabu dan Kamis. Saat ini, untuk membuat produk turunan dari kain yang telah dibuat mereka masih menggandeng pihak ketiga. “Contohnya seperti baju dan sepatu ini, anak-anak masih belum bisa,” tuturnya.
Salah satu produk jadi yang sudah 100 persen dibuat oleh mereka ialah sebuah tas tote bag. Tas tersebut dijahit oleh siswa secara mandiri, dan memiliki gambar bahasa isyarat tangan. Gambar itu memiliki arti Kota Batu. Ke depannya ia berharap berbagai produk bisa 100 persen karya anak-anak disabilitas.
“Kita ingin mengubah mindset masyarakat bahwa anak-anak ABK ini mampu membuat berbagai macam produk,” tuturnya. Karena terlihat sangat bagus, karya tersebut dikira hasil kerajinan para guru. Kerajinan tersebut juga diperjualbelikan.(iza/lid)
Editor : Kholid Amrullah