BATU – Sejumlah pedagang unggas di Kota Batu menolak dicampur dengan layanan jasa selep daging yang sama-sama ditempatkan di Pasar Unggas yang kini sedang dibangun. Alasannya, lokasinya berada di belakang Pasar Sayur bagian bawah yang dikhawatirkan sepi pembeli. Alasan kedua, jika berdekatan dengan selep daging yang bising bisa menyebabkan hewan unggas stres.
Salah satu pedagang unggas di Pasar Relokasi Kota Batu Siti Zulaikah mengatakan, lebih baik pedagang unggas ditempatkan di atas dekat jalan. "Kalau diletakkan di bawah ya sepi Mbak. Siapa yang mau turun ke bawah?" tanyanya.
Pedagang asal Pujon ini mengaku, sebenarnya penjual unggas seperti ayam, bebek, burung, dan sebagainya kurang cocok bila dipasangkan dengan selep daging. "Saya sudah dengar kalau Pasar Unggas mulai dibangun. Semoga di sana sanitasi airnya lancar untuk penyembelihan ayam dan lain-lain," jelasnya kemarin (8/8).
Hal ini juga dibenarkan oleh pedagang unggas burung merpati bernama Hartono. Menurut dia, Pemerintah Kota (Pemkot) Batu harus benar-benar memprioritaskan Pasar Unggas agar ramai pembeli. Selain itu, jasa selep daging dicampur unggas hidup kurang cocok dari segi bisingnya mesin.
"Manusia saja bising dengar suara mesin selep daging. Apalagi, unggas (ayam, burung merpati, dan sebagainya). Khawatirnya unggas menjadi stres," jelasnya kepada wartawan koran ini.
Menurut Hartono, Pemkot Batu juga harus memikirkan sirkulasi udara untuk unggas. Contohnya, hewan burung berkicau pasti butuh sinar matahari. "Jumlah pedagang unggas di pasar memang tidak banyak kok sejumlah 12 orang. Tapi, pedagang selepnya sekitar 7 orang," beber dia.
Dia juga berpesan, jika pedagang pindah ke Pasar Induk Kota Batu sebaiknya, penjual unggas harus dibuatkan penampungan sementara. "Waktu kapan itu saya koordinasi dengan Pemkot Batu, penampungan sementara pedagang unggas yaitu di Barat dan Selatan Pasar Sayur," tambah Hartono.
Di sisi lain, Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (DPKP) Kota Batu Syekh Zaenal Arifin mengatakan, Pasar Unggas sudah dimulai dibangun tetapi baru strukturnya di tahap pertama. "Anggaran untuk tahap pertama dari APBD 2023 sejumlah Rp 945 juta," ucapnya.
Ia menjelaskan, awalnya Pasar Unggas dibangun di belakang dan bagian bawah Pasar Sayur. Kemudian, pedagang ingin bangunannya sejajar dengan Pasar Sayur. "Namun kalau dibangun 2 lantai sekaligus anggarannya tidak cukup. Kalau tahap 1 dan 2 membutuhkan anggaran Rp 3,5 miliar," tambahnya.
Bagaimana upaya dinas mengenai kekhawatiran warga sekitar soal saluran pembuangan air selep daging dan penyembelihan unggas? Pihaknya menyampaikan, Pemkot Batu sudah memikirkan saluran pembuangannya seperti apa dan ke mana. "Yang jelas kita akan bangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal di sana. Jadi, warga tidak perlu khawatir," tutupnya. (ifa/lid).
Editor : Kholid Amrullah