BATU - Salah satu penyumbang sampah ke TPA Tlekung ialah sampah dari rumah tangga. Salah satu relawan. Salah satu Relawan Eco Enzim Kota Batu Yayuk Winarko membagikan tips bagaimana mengelola sampah organik selesai di tingkat rumah tangga.
Dia mengatakan rumah tangganya menghasilkan sampah sekitar tiga kilo sehari. “Ukurannya termasuk keluarga besar, ada tujuh orang, anak saya lima ditambah saya dan suami,” ungkapnya. Dari jumlah itu ada sekitar 65 persen sampah organik yang dihasilkan atau sekitar dua kilogram.
Untuk sampah anorganik ia pilah dan kumpulkan. Lalu, sekitar satu bulan Yayuk setor ke bank sampah. Selain itu dia mengubah sampah organik menjadi eco enzim. Eco enzim dapat dimanfaatkan bermacam-macam. Mulai dari pertanian hingga kesehatan. “Bahkan dengan eco enzim dapat bertani 100 persen organik,” ucapnya.
Bahan organik yang dapat dibuat menjadi eco enzim ialah bekas sayuran dan buah. Mulai dari kulit hingga buahnya. “Namun tidak boleh menggunakan buah yang berlemak seperti durian, kalau kulitnya boleh,” tuturnya.
Untuk membuatnya, diperlukan wadah yang kedap udara. Di rumahnya ia kebanyakan menggunakan galon bekas air. Perbandingan dengan bahan lainnya ialah 1:3:10. “Misalnya 1 kilo gula, 3 kilo buah dan sayur dan 10 liter air,” katanya. Untuk gula bisa menggunakan molase agar lebih ekonomis.
Ia menyarankan agar menggunakan sampah buah yang segar. “Agar ketika jadi bisa punya banyak manfaat, yang sudah busuk tetap bisa misalnya untuk pertanian,” katanya.
Sampai dua minggu pertama, eco enzim harus di cek berkala. Sebab menimbulkan gas sehingga perlu dibuka tutup. Kemudian setelah itu ditutup rapat sampai tiga bulan. “Bahkan dapat digunakan untuk mengobati luka,” ujarnya.
Kemudian untuk sampah organik seperti nasi, cangkang telur duri ikan, bisa diberikan ke ternak. Sedangkan yang tak terpakai, ia letakkan di sebuah tempat penampungan untuk dijadikan kompos. Ajaibnya meskipun diletakkan tak ada bau busuk yang tercium di tampungan tersebut karena disemprot eco enzim.
Dengan melakukan hal tersebut ia hanya menghasilkan sampah sekitar satu kresek atau satu kilo setiap minggunya. “Seperti bungkus kecap ataupun bungkus bumbu mi,” bebernya. Ia berharap agar masyarakat sadar akan masalah sampah dan bisa menyelesaikan sampah organik di tingkat rumah tangga. (iza/lid)
Editor : Kholid Amrullah