BATU - Atlet Badminton di Kota Batu menipis. Imbasnya tahun ini Kota Batu hanya mengirimkan tiga atlet untuk berlaga di kejuaraan tingkat provinsi (Kejurprov).
Ketua Panitia Kejurkot Bulu Tangkis Kota Batu Carella Nourizano Sugihara mengatakan, minimnya atlet badminton ini bisa terjadi karena kurangnya pembinaan di usia dini maupun remaja. Sehingga hal ini membuat para atlet badminton berhenti di tengah jalan. "Mereka biasanya berhenti bermain di usia remaja. Padahal perlombaan provinsi memiliki batas usia minimal belasan sampai dua puluhan tahun. Jadi sangat disayangkan," ujarnya.
Karenanya, Kejurkot tahun ini difokuskan untuk pertandingan bagi anak-anak. Ada enam kategori di Kejurkot 2023. Yaitu, pra-dini, dini, anak, pemula, remaja, dan dewasa. "Dari 137 atlet sebagian besarnya didominasi oleh anak-anak. Atlet termuda berusia delapan tahun dan yang paling tua kurang dari 30 tahun. Jumlahnya pun naik dari tahun kemarin yang tidak mencapai 110 atlet," jelasnya.
Menurut dia, tren badminton saat ini sedang naik. Hal ini akan dimanfaatkan Carella untuk melakukan pembinaan pada atlet muda. "Awalnya hanya delapan klub. Namun sekarang jumlahnya bertambah menjadi sebelas klub dan persaingannya makin ketat," ungkapnya. Hal ini akan melatih mental anak dalam bertanding.
Di lain sisi, salah seorang atlet Dimas Jayawardaya Nason mengatakan, ia telah melakukan persiapan sejak jauh-jauh hari. Ia akan bertanding secara ganda maupun tunggal di Kejurkot 2023. "Seminggu saya latihan setiap hari. Hanya libur di hari Minggu saja," jelasnya.
Anak kelas dua SMP ini bercerita, kecintaannya terhadap badminton telah tumbuh sejak kelas dua SD. Meskipun tidak ada yang suka dengan olahraga badminton di rumah, tapi orang tua mendukung penuh minat olahraganya itu. "Saya berharap dapat berhasil di dua pertandingan tersebut dan maju ke provinsi," katanya mengakhiri. (kj1/lid)
Editor : Kholid Amrullah