Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sungai di Kota Batu Rawan Jadi Tempat Buang Sampah

Kholid Amrullah • Sabtu, 2 September 2023 | 20:00 WIB
HALAU SAMPAH: Jembatan di salah satu gang di Kota Batu dipasang jaring agar tidak dijadikan tempat membuang sampah.
HALAU SAMPAH: Jembatan di salah satu gang di Kota Batu dipasang jaring agar tidak dijadikan tempat membuang sampah.

BATU – Sungai-sungai yang ada di Kota Batu rawan dijadikan tempat membuang sampah. Karena masyarakat tidak punya lahan untuk membuang sampah dan  belum terbiasa memilah sampah. Sehingga yang paling gampang adalah membuang sampah di sungai. Hal itulah yang saat ini menjadi kekhawatiran beberapa warga Kota Batu.

 

Seperti yang termuat di media sosial Facebook, sejumlah warga mengungkapkan kebingungannya dalam membuang sampah dan khawatir banyak yang membuang sampah di sungai. Salah satu akun juga mengingatkan warganet lainnya untuk menjaga sungai, guna menghindari pembuangan sampah ke sungai. “Ayo dijogo jembatan ambek kali sekitar kampunge dewe-dewe, terutama seng kali pinggir dalan. Akeh seng buang sampah nang kali biasane jam 3-5 isuk ,” seru akun dengan nama Yobi Rdp.

 

Sementara itu, terlihat di jembatan gang Jalan Panglima Sudirman, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Kota Batu dipasang jaring. Ketika dikonfirmasi ke warga sekitar hal itu memang bertujuan untuk menghalau sampah. Tetapi, masih terpasang di salah satu sisi. Dan katanya salah satu sisinya akan menyusul di pasang.

 

Ketua RW 09, Putra Kuswantoro mengatakan, lokasi tersebut berada di RW 10. Ia menyesalkan tindakan warga yang membuang sampah ke sungai tersebut. “Sungainya juga kecil dan alirannya kecil,” ucap dia. Terlihat beberapa bungkusan kresek di sekitar jembatan itu.

 

Menurut Putra, penanganan pemerintah kepada sampah terlambat. Pria yang sudah menjadi ketua RT selama 26 tahun sebelumnya itu, mengatakan bahwa wali kota pertama dahulu sudah mengatakan untuk memikirkan betul-betul masalah sampah di Kota Batu sejak awal. “Karena beliau tahu, kota ini menarik dan akan datang wisatawan,” ujar Putra.

 

Keruwetan penanganan sampah pun ia rasakan di lingkungannya pada hari pertama penutupan TPA Tlekung. “Warga ya bingung mau di buang ke mana,” kata dia. Menurutnya, saat ini sampah yang di lingkungannya sudah cukup bisa teratasi. Warga diarahkan membeli dua wadah berukuran 25 liter. Satu berbahan plastik untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk. Dan satunya yang berbahan besi  untuk mengolah sampah anorganik. “Kalau anorganik yang bisa dijual ya dijual,” jelasnya.

 

Menurutnya, dari sekitar 230 KK yang ada di RW-nya, dalam sehari menghasilkan sampah sekitar satu ton sehari. “Yang paling banyak mungkin dari warung-warung,” katanya. Menurut Putra, dengan adanya kejadian ini, warga lebih memikirkan jumlah sampah yang dihasilkan.

 

Ia meminta pemerintah segera mengoptimalkan TPS3R di desa dan kelurahan. Sehingga pengolahan sampah semakin optimal. “Kalau membangun TPA baru, belum tentu ada yang mau juga ditempati,” ucap Putra.

 

Salah seorang warga Ngaglik Andik Santoso mengatakan saat ini kebingungan mengolah sampah organik. Sampah organik miliknya sudah lebih sehari semalam berada di dalam rumah. “Biasanya kan tinggal diambil petugas,” katanya. Untuk sampah anorganik sudah dikumpulkan bersama warga lain untuk diproses.

 

Ia masih menunggu instruksi bagaimana mengolah sampah organiknya. Permasalahan sampah ini menurutnya menjadi PR pemerintah. Kenapa sebagai  kota wisata permasalahan sampah belum juga terpecahkan.

 

Di tempat lain, Kades Tlekung Mardi mengaku dari hari penutupan hingga kini belum ada kiriman sampah yang masuk ke TPA Tlekung. “Alhamdulilah tidak ada,” kata Mardi. (iza/lid)

Editor : Kholid Amrullah
#Kota Batu #sungai