BATU - Memiliki profesi sebagai dokter hewan liar merupakan suatu tantangan tersendiri Bagi Irwanda Kusuma Wardhana . Tercatat sudah 15 kali dokter hewan Jatim Park 2 ini terluka diserang hewan-hewan yang diobatinya.
Pria yang akrab disapa dengan Dhana ini mengatakan, profesi ini merupakan bidang yang diinginkannya sejak menempuh pendidikan dokter. Perasaan tertantang mengobati hewan-hewan membuatnya memilih spesialisasi ini saat pendidikan. "Tantangannya bervariasi. Selain memiliki cara yang berbeda dalam mengobati setiap spesies hewan liar, jenis obatnya pun berbeda pada masing-masing hewan," jelasnya.
Selama 8 bekerja untuk Jatim Park 2, ia telah berulang kali menangani kasus penyakit yang unik pada hewan. Pada suatu waktu ia mengurus kuda nil yang nafsu makannya turun. Segala cara telah dilakukan. Pada hari ketiga, kuda nil tersebut akan dibius dan diambil sampel darahnya. "Namun sebelum kita membiusnya ternyata dia hanya ingin melahirkan. Hal ini terjadi karena sulit sekali mendeteksi kuda nil yang mengandung. Proses perkawinan juga sulit diketahui karena kuda nil melakukannya di dalam air," ujar dokter lulusan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya itu.
Selain kasus unik, ia juga telah berulang kali digigit dan diseruduk satwa liar. Dhani bercerita, kasus terparah yang pernah ia alami adalah digigit ular ekor merah yang memiliki bisa yang mematikan. Untungnya sebelum kejadian tersebut, ia telah memeriksa beberapa RS yang memiliki anti bisa. "Awalnya saya ingin menjemur ular itu karena nafsu makannya turun. Namun tiba-tiba saya dikagetkan oleh penjaga kandang sehingga ular yang saya pegang juga ikut kaget dan akhirnya menggigit," kata laki-laki 34 tahun tersebut.
Memiliki risiko tinggi. Pengobatan satwa liar tidak dapat dilakukan secara sembarang. Dhani menjelaskan, untuk mengobati seekor singa dibutuhkan minimal tiga orang untuk menanganinya. Biasanya para dokter akan dibantu penjaga kandang untuk mengondisikan satwa liar. "Kami biasanya menggunakan jaring, tongkat, kejut listrik, hingga toa. Bahkan untuk menyuntik hewan, paling aman dengan menggunakan peniup. Jadi memang dilakukan dari jarak jauh," jelas pria kelahiran 1989 ini.
Meskipun telah mengalami beragam kecelakaan akibat satwa liar, kesenangannya terhadap profesi tersebut tidak padam. Dhani mengatakan, dari semua satwa liar ia paling suka dengan reptil. Bahkan ia juga memelihara dua ekor ular ball python betina di rumahnya. "Saya suka reptil karena tidak bersuara. Selain itu mereka juga gampang ditebak ketika akan menyerang. Jadi saya dapat mengantisipasinya terlebih dahulu," ungkapnya mengakhiri. (*/lid)
Editor : Kholid Amrullah