BATU – Sejumlah petani di Kota Batu mulai kehilangan minat pada bidang pertanian. Hal tersebut terlihat melalui penurunan jumlah petani dan menyusutnya lahan pertanian. Hal tersebut dikarenakan perpindahan kultur masyarakat Kota Batu dari pertanian ke pariwisata.
Penyuluh Pertanian Ahli Muda Dinas Pertanian Kota Batu Sri Wahyuni mengatakan, data tahun 2021 dan 2022 memperlihatkan bahwa terdapat penurunan jumlah petani di Kota Batu. Penurunan tersebut mencapai 2.200 orang petani. "Kemungkinan terdapat penurunan lagi di tahun ini. Namun data pastinya masih belum terekap," ungkapnya.
Selain jumlah petani, lahan pun semakin menyempit. Dari yang awalnya 4.901,30 hektare diperkirakan turun sebanyak 100 hektare menjadi 4.800 hektare di tahun 2022. "Banyak lahan beralih fungsi menjadi perumahan ataupun kafe di Kota Batu," jelasnya. Rata-rata para petani Kota Batu hanya memiliki lahan seluas 2.000 meter persegi sampai 3.000 meter persegi.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan peralihan pekerjaan tersebut. Salah satunya bidang jasa yang digemari sejak Kota Batu menjadi kota pariwisata. Selain itu, Sri mengatakan, iklim ekstrim yang menerpa Kota Batu akhir-akhir ini juga membuat petani kebingungan. "Para petani tidak bisa memperkirakan lagi kapan musim kemarau atau musim hujan datang," ucapnya. Hal tersebut berpengaruh pada modal dan hasil produksi yang didapatkan.
Meskipun mengalami penurunan, uniknya jumlah petani muda kian naik. Sampai saat ini diperkirakan terdapat 25 petani milenial di masing-masing desa/kelurahan. Total petani milenial di Kota Batu diperkirakan mencapai 600 orang. "Dalam pembelajaran Bimtek dari provinsi, biasanya mereka akan menargetkan petani milenial. Jika daerah lain tidak datang, biasanya Kota Batu yang diminta mengisi bagian itu," ungkapnya. Para petani milenial tersebut tak hanya fokus untuk bertani tapi juga dalam pemasaran yang lebih bagus.
Salah seorang petani milenial Diki mengatakan, ia beralih ke bidang pertanian karena ada potensi yang dilihat. "Awalnya saya dulu jurusan ahli gizi. Namun beloknya ke pertanian," ujar pria berusia 28 tahun tersebut singkat. Dalam perkembangan pertanian Kota Batu, Diki bersama kelompok tani muda makmur telah membuat inovasi pestisida alami bernama Tridi. Untuk generasi milenial lain, ia berharap agar tak malu untuk menjadi petani. (sif/lid)
Editor : Kholid Amrullah