Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Peternak Harus Paham Reformulasi Pakan Demi Tingkatkan Produktivitas Susu Sapi

Kholid Amrullah • Selasa, 23 Januari 2024 | 13:42 WIB

 

Photo
Photo

MALANG - Reformulasi pakan sapi menjadi pembahasan menarik dalam seminar di Jalan Raya Ngijo, Karangploso, Kabupaten Malang, Senin kemarin (22/1). Hasil dari seminar tersebut adalah para peternak di Indonesia harus memahami formula pakan yang tepat sangat menentukan produktivitas susu sapi.

 

Perlu diketahui, seminar ini diikuti oleh 40 peserta dari koperasi susu dari berbagai wilayah di Indonesia dan 30 peserta lainnya dari fakultas peternakan serta mahasiswa. Seminar-seminar ini disponsori oleh Serikat Koperasi Susu Indonesia (GKSI), US Grains Council, US Dairy Ekspor Council (USDEC), dan US Food Ekspor Association of Midwest USA.

 

Tak hanya itu, American Corners dari tiga universitas pun turut terlibat. Yakni, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dan Institut Teknologi Bandung. Di  Bandung pun juga berpartisipasi dengan menyediakan tempat hingga logistik seminar.

 

Seminar ini berlangsung pada 22 hingga 26 Januari 2024 di tiga daerah penghasil utama susu segar Indonesia. Di antaranya,  Malang, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Bandung, Jawa Barat. Tujuan dari seminar ini adalah membahas potensi daya saing dalam sektor industri peternakan sapi perah lokal dengan menggunakan bahan pakan AS berkualitas tinggi. Kemudian, diharapkan mampu meningkatkan praktik peternakan dan metode produksi industri peternakan sapi perah Indonesia.

 

Dairy Nutrition Consultant Dr. Walter  Chen  mengatakan, formula pakan sangat menentukan terhadap hasil susu sapi. Karena, produksi susu berasal dari pakan. "Kalau ingin produksi susu sapi meningkat, maka pakannya harus disesuaikan. Pakan kan bukan isinya rumput saja. Tapi, ada formula dan komposisinya harus dihitung secara tepat," terangnya.

 

Chen menerangkan bahwa formula dan komposisi pakan harus disesuaikan dengan kebutuhan sapi. Jadi, sapi mana yang kebutuhannya tinggi dan mana yang rendah harus dipastikan terlebih dahulu. "Ya, penghitungannya berdasarkan kandungan gizinya (formula) dan disesuaikan dengan bahan yang ada. Intinya, harus ada reformulasi ulang agar tidak sama terus menerus," jelasnya.

 

Menurutnya, kebutuhan gizi sapi ada bermacam-macam. Ada lebih dari 25 jenis. "Solusinya adalah kita harus memperbaiki pakan kita. Di Cina sekitar 40 tahun lalu pakannya masih kayak kita gini. Namun, Cina sudah bisa berkembang luar biasa. Populasi sapinya bagus dan makanan sapi dihitung secara benar," beber Chen.

 

Di Cina, produksi susu sapi mencapai di atas 40 liter per hari. Sedangkan, Perusahaan Greenfields di Kabupaten Malang sudah 33 liter. Namun, produksi susu sapi di kalangan peternak hanya 10 liter per hari.

 

Sehingga, untuk membuat pakan sapi itu tidak boleh asal. Semuanya harus dipertimbangkan.  Bukan energi atau protein saja melainkan kandungannya pati. Yaitu, karbohidrat yang terdiri atas amilosa dan amilopektin.

 

Lanjut Chen, pati bukan hanya dihitung dari yang ada di dalam makanan, akan tetapi, berapa yang masuk ke dalam perut sapi hingga lolos masuk ke usus harus dicek. "Contohnya, peternakan sapi di Cina bisa semakin besar karena mengadopsi cara Amerika yang modern. Jadi, padang rumput dibikin, rumput diberikan bersama asupan kepada sapi, kandang tertutup dan kebutuhan suhunya diperhatikan," papar dia kepada Jawa Pos Radar Malang.

 

 USGC Regional Technical Consultant Dr Budi Tangendjaja menyampaikan, pada prinsipnya formulasi dan komposisi pakan sapi harus pas. Tidak kekurangan gizi maupun kelebihan. Dan, para peternak di Indonesia sudah tidak boleh ketinggalan informasi yang kian pesat ini.

 

Ditambahkannya, para peternak pun juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan. Misalnya, peternak memberi makanan kepada sapi tetapi kelebihan dan berujung pencemaran lingkungan. Sehingga, sapinya kurang sehat dan produksi susu sapinya berkurang. "Efeknya kotoran sapi yang mengalir ke sungai bisa mencemari lingkungan. Karena kebanyakan nitrogen," tambah dia.

 

Sebaliknya, apabila kekurangan gizi akan berimbas pada tidak adanya produksi susu sapi. Padahal, peternak ingin menghasilkan susu sapi sebanyak-banyaknya dan semurah-murahnya agar semua orang bisa minum susu lebih baik dan lingkungan terpelihara.(art/lid)

Editor : Kholid Amrullah
#GKSI #susu sapi #peternak sapi #Pakan