FAKTA baru terungkap di balik kasus meninggalnya RWK, pelajar SMPN 2 Batu, akibat pengeroyokan.
Tiga di antara lima pelaku yang merupakan teman korban sendiri berada di bawah pengaruh minuman keras (miras).
Informasi itu diketahui sebelum kelima pelaku diciduk polisi Jumat (31/5) lalu.
Seperti diberitakan sebelumnya, lima pelaku yang ditetapkan sebagai tersangka kasus pengeroyokan RWK.
Mereka adalah AS, 13; MI,15; KA,13; MA, 13; dan KB, 13.
Empat dari lima pelaku merupakan siswa di sekolah yang sama dengan korban.
Sementara, MI merupakan siswa di salah satu SMP negeri di Pujon.
Saat pertama kali mendengar kabar RWK dilarikan ke Rumah Sakit Hasta Brata pada Jumat pagi (31/5), pihak sekolah langsung memanggil para siswa yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut.
Yakni AS, KA, MA, dan KB. Mereka diminta menceritakan kejadian yang sesungguhnya.
”Meski kejadiannya di luar sekolah, kami tetap merasa punya kewajiban untuk menindak hal tersebut,” kata guru BK Kelas VII SMPN 2 Batu Herlina Evi Dwi Setyowati.
Dia menjelaskan, pada momen itu terungkap bahwa KA (perekam video) membeli miras sesaat sebelum menuju kawasan Villa Hollanda di Jalan Cempaka, Pesanggrahan, Kecamatan Batu.
KA juga sudah pernah memiliki catatan merah karena mengonsumsi miras.
Miras tersebut dibeli di daerah Pandan.
”Dia mengaku membeli miras itu dengan harga Rp 35 ribu. Itu untuk ukuran botol plastik tanggung,” imbuhnya,
Kebiasaan KA membeli miras tak lepas dari pola asuh orang tuanya.
Herlina menjelaskan, KA kerap diberikan uang jajan yang lumayan besar.
”Kadang Rp 100 ribu. Anak bisa berbuat banyak dengan nominal uang jajan yang sebesar itu,” ungkapnya.
KA berasal dari keluarga broken home.
Dia lebih sering tinggal bersama sang nenek.
Kedua orang tuanya telah lama bercerai dan sang Ibu sudah menikah lagi.
Namun, KA tak selalu menetap di rumah neneknya.
Kadang dia pulang ke rumah ibunya.
Selama ini, Herlina terus mengomunikasikan pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan KA kepada keluarganya.
Namun, tampaknya sang ibu kurang bisa kooperatif dalam melakukan pendampingan dan pengawasan.
Sehingga, kesalahan yang dilakukan KA cenderung berulang.
Fakta lain yang diungkap KA, dia meminum miras dengan dua pelaku pengeroyokan lainnya.
Yakni AS dan MI.
Sedangkan, MA dan KB tak ikut-ikut menenggak miras tersebut.
Herlina juga mengatakan bahwa kebiasaan KA minum miras sudah dimulai sejak SD.
“Itu ya karena uang saku yang diberikan orang tuanya terlalu banyak. Bahkan dia biasa bermain PS sampai larut-larut malam,” terangnya.
Namun, dalam pengeroyokan terhadap RWK, KA tidak turut melakukan serangan fisik.
Ia hanya berperan mengambil video saja.
Sementara, pelaku berinisial AS tidak kalah bermasalah.
Informasi yang dihimpun pihak sekolah dari tetangganya, AS juga merupakan korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dari sang Ayah.
“Tapi saat saya tanya dia membantah,” ujarnya.
Herlina menilai AS cenderung manipulatif.
Sebab, selama ini tak ada catatan merah di BK tentang dirinya.
Namun, AS memang terkenal jail dan suka usil kepada temannya.
“Ketika diberi tahu oleh gurunya dia manut dan sopan,” imbuhnya.
Selama ini AS kerap di rumah sendiri.
Kedua orang tuanya harus bekerja hingga sore.
AS merupakan dua bersaudara.
Dia memiliki adik.
Tapi adiknya selalu dibawa bekerja oleh sang Ibu.
Sehingga, AS lebih sering sendirian di rumah.
Itu pula yang membuat AS punya banyak waktu untuk main ke mana-mana.
Termasuk ke rumah MI yang sebelumnya dia sebut sebagai saudaranya.
Herlina mengonfirmasi bila MI bukanlah saudara dari AS.
Hanya saja, AS menganggap MI sebagai saudara lantaran sudah berteman cukup lama.
Untuk dua pelaku lainnya, yakni MA dan KB juga tidak memiliki catatan merah di BK.
Namun keduanya memang dikenal malas dan sering bolos.
“Kurang lebih background keluarganya juga sama saja broken home,” tandasnya.
Herlina mengaku akan terus melakukan investigasi dan penggalian data terkait keempat pelaku tersebut.
Termasuk juga akan mengagendakan untuk pemanggilan para orang tua masing-masing. (dre/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana