RORI DINANDA BESTARI
"Ndek ndi yah (Ayah di mana)."
Pesan itu dikirimkan Sri Utami ke WhatsApp (WA) suaminya, Agus Daryanto pada Rabu malam (8/1), tepat pukul 20.09.
Karena tak ada jawaban, delapan menit berselang dia kembali mengirimkan pesan.
”Yah,” Pesan yang sama dikirimkan lagi oleh Sri Utami pada pukul 20.21.
Tak kunjung mendapat respons, dia mengirim pesan agak panjang pada periode yang sama.
”Tlng jwb yah, awakmu ndek endi (Tolong jawab yah, kamu di mana).”
Pesan itu masuk, namun lagi-lagi tak ada jawaban.
Beberapa menit berselang, dia kedatangan tamu.
Tamu itu adalah rekan suaminya, yang sama-sama bekerja sebagai pengemudi transportasi online.
Sri Utami mendapat kabar bahwa Agus turut menjadi korban kecelakaan beruntun di Kota Batu.
Dia disarankan untuk mengecek kondisi suaminya di Rumah Sakit (RS) Bhayangkara TK III Hasta Brata Batu.
Malam itu juga, tepatnya pukul 21.00, dia berangkat.
Setibanya di RS, dia tak diperbolehkan masuk.
”Saya berusaha tenang, saya kira memang tidak apa-apa. Akhirnya saya diantar pulang oleh anak saya,” cerita dia saat ditemui di kediamannya, di Jalan Terusan Palemraja, RT 03/RW 09, Dusun Tonggolari, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, kemarin (10/1).
Sampai di rumah, Sri masih belum tahu jika suaminya telah tiada.
Sampai akhirnya mobil jenazah datang ke kediamannya sekitar pukul 00.00.
Dari sana lah dia tahu jika sang suami sudah tak bernyawa.
Tak ada air mata yang berlinang ketika itu.
Sri Utami hanya terdiam dan merasakan kekosongan.
Saat jenazah suaminya dimandikan, dia masih tak kuasa untuk melihat.
Kondisi mobil yang hancur dan cerita jika sang suami terseret sejauh 300 meter membuatnya tak bisa membayangkan kondisi belahan jiwanya.
Setelah salat jenazah, Sri mulai melihat tubuh suaminya.
Dia turut memegang tangan suaminya untuk terakhir kali.
”Saya kaget karena jenazahnya benar-benar utuh, hanya luka di kepala bagian belakang saja. Wajahnya terlihat tersenyum,” tuturnya.
Tangisnya baru pecah setelah sang suami dimakamkan.
Dia masih tak percaya harus ditinggal lelaki yang telah menemaninya bertahun-tahun.
Hari itu, suaminya berangkat bekerja sekitar pukul 13.00.
Agus sempat mandi dan bersih-bersih.
Namun, enggan makan sebelum berangkat bekerja.
Seperti biasa, Sri Utami juga rajin mengirim chat-chat ke suaminya.
Agus sempat membalas pesan Sri Utami pada pukul 16.47.
Saat itu dia mengabari istrinya setelah mengantar penumpang ke wilayah Soekarno-Hatta, Kota Malang.
”Mas Agus memang orangnya lucu dan bucin sekali, padahal sudah tua,” kata perempuan berusia 63 tahun itu.
Sosok Agus di mata Sri adalah pria yang ceria, penyayang, dan humoris.
”Ulang tahun saya kemarin 4 Desember (2024), saya dibelikan HP (handphone) dan diberi uang, katanya biar saya senang,” cerita dia sedikit berkaca-kaca.
Pada 2025 ini, sejatinya usia pernikahan keduanya sampai di angka angka 43 tahun.
Mereka dikaruniai empat anak dan empat cucu.
Selama pernikahan, hampir tidak pernah mereka bertengkar hebat.
”Padahal saya ini cerewet. Saya sempat bercanda dan bilang ke dia kalau istri cerewet nanti bisa ditempeleng suami. Tapi dia bilang ke saya, yo eman toh sayangku, sambil menepuk kepala saya,” ujarnya sembari mulai meneteskan air mata.
Suara Sri mulai terdengar berat ketika menceritakan beberapa memori bersama almarhum suaminya.
”Mas Agus itu sering bilang ke saya, kalau hidup (manusia) itu paling lama 60 tahun, sementara lebihnya itu bonus,” ungkapnya.
Agus meninggal pada usia 65 tahun.
Perkataan suaminya itu menjadi penguat dan alasan bagi Sri Utami untuk legawa. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana