Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bambu dan Kayu Kini Banyak Dipesan untuk Membangun Kafe

Bayu Mulya Putra • Senin, 10 Maret 2025 | 02:20 WIB
DIMINATI: Kafe Sontoloyo di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota  Batu menonjolkan desain bangunan berbahan dasar kayu
DIMINATI: Kafe Sontoloyo di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menonjolkan desain bangunan berbahan dasar kayu

Konstruksi bangunan dengan bahan kayu dan bambu tetap eksis. Dengan perawatan yang benar, usia bangunan dari dua bahan itu bisa mencapai puluhan tahun

BANGUNAN yang didominasi bahan dasar kayu semakin sulit ditemui di Malang Raya. Kalaupun ada, mayoritas tidak lagi difungsikan sebagai hunian. Melainkan sebagai kafe, resort, cottage, atau villa.

Contohnya yakni Kafe Sontoloyo di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Di sana ada empat bangunan dengan model rumah joglo.

Kedua bagian dinding tertutup kayu, dan kedua bagian lainnya dibiarkan terbuka. Rinto Agung, pemilik Kafe Sontoloyo sengaja mendesain kafe tersebut dengan nuansa pedesaan di Jawa.

Sebab menurut dia, kafe dan restoran dengan konsep tersebut banyak dimintai.

”Apa lagi di daerah perkotaan, karena banyak yang ingin nostalgia dengan rumah lawas,” tuturnya.

 Rinto sendiri juga seorang arsitek rumah tradisional.

Sejak 2011, pria asal Tulungagung, Jawa Timur tersebut banyak menerima pesanan pembuatan rumah kayu.

Karena itu ada tempat produksi yang lokasinya tak jauh dari kafe sontoloyo.

Saat didatangi koran ini, tampak para tukang kayu sedang mengerjakan pesanan dari Bandung. 

Yang dipesan yakni bangunan berukuran 10 x 12 meter. Hampir seluruh bangunan buatan Rinto berasal dari kayu bekas.

Menurut dia, kayu bekas memiliki berbagai kelebihan. Salah satunya tidak mudah melengkung.

”Khusus kayu jati, semakin lama malah semakin kuat dan mahal,” terang alumni Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tersebut. 

Dia mendapat kayu-kayu bekas tersebut dari bongkaran rumah-rumah lawas dari berbagai daerah. Mulai dari Kediri, Blitar, Tulungagung, hingga Surabaya.

Selain kayu jati, jenis kayu nangka, sono, mangir hingga bendo juga dipakai sebagai bahan bangunan.

Dalam satu bangunan, Rinto biasa menggunakan berbagai jenis kayu.

Kecuali jika customer meminta full kayu jati. Proses pengerjaan satu bangunan bisa memakan waktu sekitar enam bulan. 

Permintaan model bangunan juga beraneka ragam. Mulai dari rumah joglo, sinom, rampasan, hingga slontong. Yang paling banyak diminati yakni bangunan Joglo.

Saat ini, pelanggannya juga banyak yang memesan desain bangunan modern.

Seperti sentuhan ornamen-ornamen kayu di beberapa bagian tertentu.

Contohnya di bagian tangga dan dinding. Harga yang ditawarkannya beraneka ragam.

Mulai dari Rp 40 juta hingga Rp 150 juta untuk setiap bangunan. Semua bergantung bahan baku kayunya.

”Jadi saya bikinkan sketsa model dulu, kalau setuju baru saya siapkan bangunan dari sini. Lalu diangkut dan dipasang di sana,” terang Rinto. Perawatannya relatif muda.

Yang pasti, bangunan kayu tidak boleh sering terendam air.

”Jadi kalau bocor harus segera ditutup,” kata dia.

Sementara untuk masalah rayap, bisa memakai obat atau dioles oli maupun solar. 

Di tempat lain, Ketua Asosiasi Pengembanga Perumahan dan Permukiman (Apersi) Malang Dony Ganatha mengakui bahwa penggunaan kayu kini lebih banyak digunakan untuk ornamen-ornamen tertentu.

”Seperti bagian pintu dan jendela,” kata dia. Itu mengadopsi rumah bergaya Eropa klasik
dan modern. (dur/by)

 

Editor : Aditya Novrian
#joglo #kafe #Kayu #sontoloyo #bambu