BATU - Akses Jalan Pura Arjuno di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, sempat tertutup sejak Senin malam (19/5). Ruas jalan tersebut tertutup material tanah longsor. Pembersihan baru dilakukan Selasa pagi (20/5) dan baru selesai pada pukul 10.00. Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Malang kemarin pagi, longsoran yang menutup Jalan Pura Arjuno berasal dari tebing setinggi 30 meter. Tak hanya material berupa tanah, longsor juga membawa pohon di tebing jatuh dan menutup badan jalan. Bahkan, pepohonan di sekitar sungai turut ambruk diterjang longsor.
Plt Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Batu Arif Purwanto mengungkapkan, peristiwa tanah longsor itu terjadi pada Senin (19/5) pukul 22.00. Tapi warga baru melapor pada pukul 03.00. Karena itu, proses pembersihana baru dimulai kemarin(20/5), sekitar pukul 06.00. Arif mengatakan bahwa peristiwa itu lolos dari pantauan perangkat early warning system (EWS). Itu karena lokasinya berada jauh dari permukiman. Artinya tidak ada pantauan pada titik tersebut sebelum peristiwa longsor.
”Hari itu memang terjadi hujan deras sejak pukul 12.00. Hujan itu memicu luapan air di Kali Paron,” ungkapnya. Air sungai yang meluap mengikis bagian bawah tebing. Kondisi itu masih ditambah adanya saluran irigasi yang terputus, membuat tanah jenuh di atas tebing dan memicu longsor. Proses pembersihan yang dilakukan kemarin melibatkan banyak pihak. Mulai dari relawan BPBD, tim Tahura (Taman Hutan Rakyat), Dinas Damkarmat, dan warga setempat. Banyaknya material yang menimbun badan jalan, seperti tanah dan pepohonan, membuat waktu pembersihan cukup lama. Setelah material longsor disingkirkan, Tim Damkarmat Kota Batu melakukan penyemprotan badan jalan agar tidak licin.
Mereka menghabiskan 8.000 liter air untuk pembersihan jalan sepanjang 25 meter. Jalur tersebut baru bisa dilewati pada pukul 10.00. Artinya, akses jalan itu sempat tertutup selama 12 jam. Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Batu Doddy Fatchurrahman menambahkan, upaya tindak lanjut juga dilakukan dengan memoton material pepohonan yang terbawa longsor. Utamanya pohon besar yang masuk ke badan sungai. “Kami potong kecil-kecil sekitar 30-40 cm, lalu kami bakar agar tak terbawa arus dan berdampak di bawah,” tuturnya. Ke depan juga akan dilakukan pohon di sepanjang tebing yang rawan longsor. Khususnya untuk tanaman yang kuat menahan air. ”Kami koordinasikan kembali dengan Tahura untuk jenis pohon yang cocok ditanam di sana agar peristiwa serupa tak terjadi kembali,” tandasnya.
Editor : A. Nugroho