MALANG RAYA - Batasan penggunaan sound system di kegiatan-kegiatan karnaval tak membawa dampak besar bagi para pengusahanya. Pesanan yang datang tetap banyak. Hanya nilai omzet saja yang terpengaruh. Itu pun tak dirasakan semua pengusaha.
Di Kota Batu, rata-rata pesanan spesifikasi sound sudah berubah. Itu sesuai arahan dari Polres Batu. Sutrisno, pemilik Amora Audio mengaku kini kapasitas maksimal yang dipesan untuk karnaval di Kota Batu menggunakan lima sampai enam subwoofer saja.
Untuk spesifikasi itu, dia membanderolnya dengan harga sewa Rp 12 sampai Rp 13 juta. ”Itu sudah meliputi genset hingga lighting,” terangnya. Harga itu jauh lebih murah dari sebelum adanya aturan pembatasan sound horeg.
Dulu, rata-rata pesanan yang masuk untuk spesifikasi 12 subwoofer. Harganya antara Rp 45 sampai Rp 50 juta untuk sekali sewa. Banderol itu bisa lebih mahal bila yang disewa adalah sound-sound buatan Eropa. ”Memang paling terasa di penurunan omzet,” kata dia.
Pria asal Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji itu mengaku saat ini hanya menerima empat pesanan bulan Agustus. Dua kegiatan di Kota Batu dan dua kegiatan lainnya di Kabupaten Malang. Trisno menyebut bahwa perubahan spesifikasi itu akan memengaruhi jenis kendaraan pengangkut sound.
Dari yang sebelumnya bisa menggunakan truk fuso dengan belasan subwoofer, kini dia hanya memakai truk Colt Diesel Engkel (CDE) saja. ”Kemudian juga perlu penyesuaian dengan beberapa formasi sebelumnya,” jelasnya. Sebagai contoh, rombongan untuk sound system bisanya diikuti antara 50 sampai 60 orang dengan panjang barisan sekitar 150 meter. Dengan subwoofer yang sedikit, jumlah peserta karnaval umumnya juga lebih sedikit.
Senada dengannya, Pemilik Putra Tani Audio Dimas Prayoga mengaku siap menaati batasan yang telah ditetapkan Polres Batu. Dengan mengganti spesifikasi yang sebelumnya mencapai 12 subwoofer dipangkas menjadi lima sampai enam subwoofer saja. ”Imbasnya memang berkurang omzet dari sound, padahal sedang momen karnaval,” katanya.
Seharusnya, Dimas dapat meraup uang sewa Rp 20 sampai 30 juta untuk sound dengan belasan subwoofer. Namun, saat ini hanya dibanderol seharga Rp 9 sampai Rp 12 juta saja. ”Tentu juga kami batasi jumlah kru yang bertugas saat karnaval,” ujar pria asal Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo itu.
Dulu, dalam sekali tampil, ada tujuh kru Putra Tani Audio yang turun. Setelah ada pembatasan, mereka mengurangi jumlah personel untuk menekan biaya pengeluaran. ”Gantian per lokasi mungkin tiga sampai empat orang saja agar job-nya merata,” tambah dia.
Berbeda dengan Kota Batu, pengusaha di Kabupaten Malang tak banyak terpengaruh dengan wacana pembatasan sound system. Seperti disampaikan David Stevan Laksamana Perwirayuda, pemilik Blizzard Audio. Dia mengaku sudah mendapat pesanan dari Kabupaten Malang, Blitar, Banyuwangi, Lumajang, hingga Jember. Beberapa customer-nya juga sudah inden untuk tahun depan.
Bila dirata-rata, setiap tahun David bisa menerima 100 pesanan sewa sound system. Dia menyebut bahwa beberapa pelaku usaha sound system juga sempat menerima pesanan dari Kota Batu. Salah satunya di Kecamatan Junrejo. Meski ada pembatasan maksimal lima subwoofer, ada pelaku usaha yang bisa menambah hingga delapan subwoofer.
Pelaksanaannya pun berjalan lancar dan tidak ada protes dari warga. Namun itu tak berlaku di Kota Malang. David mengaku hampir tidak pernah menerima pesanan sound system di Kota Malang. Selain karena ada larangan, lokasi Kota Malang yang merupakan daerah padat penduduk jadi alasan utamanya.
Kecuali kawasan-kawasan yang berdekatan dengan Kabupaten Malang seperti Kecamatan Dau. ”Secara animo, ada yang masih ramai dipesan karena surat edaran terkait sound horeg kan belum turun dari Pemprov Jatim,” kata David.
Pihaknya berharap agar pemerintah mempertimbangkan regulasi terkait sound horeg yang sedang disusun. Salah satunya terkait spesifikasi sound yang digunakan. David menyebut kalau standar kebisingan maksimal 70 desibel (dB) itu sangat pelan. Demikian pula di angka 100 dB. ”Untuk mengakali, kami menambah dimensi sound. Tingkat kebisingan maksimal 135 desibel,” terang lelaki yang sudah menekuni bisnis sound system sejak 2016 itu.
Dia pun menyebut kalau sound yang digunakan di acara-acara memiliki tingkat kebisingan lebih dari 100 dB. Itu bisa dicek menggunakan sound level meter atau decibel meter. Dengan beberapa spesifikasi tersebut, lanjut David, bisa menjangkau barisan karnaval yang kini semakin panjang.
Saat ini, panjang barisan karnaval berkisar antara 150 sampai 200 meter. Untuk kendaraan pengangkut sound, biasanya menggunakan truk enam roda. Seperti Colt Diesel Double (CDD), Isuzu Elf NMR 71, dan jenis truk enam roda lainnya. ”Kalau pakai pikap, dimensinya terlalu kecil. Malah membahayakan karena tidak bisa mengangkut sound dengan jumlah subwoofer yang biasanya sampai delapan. Belum lagi ada genset yang harus diangkut,” jelas David.
Senada dengannya, Kharisma Antaturrohman, pemilik Kharisma Motor Audio Kepanjen juga mengatakan bila pesanan tak banyak berkurang. Kepada Jawa Pos Radar Malang, pria yang bermukim di Kelurahan Ardirejo, Kecamatan Kepanjen itu mengatakan bahwa bulan Agustus ini adalah waktu panen rezeki. Usahanya sendiri sudah menerima sembilan pesanan sewa sound system di berbagai tempat.
Seperti di Kecamatan Pagak, Bantur, Ngajum, Wonosari, Gondanglegi, Kepanjen, Kabupaten Pasuruan, hingga Lumajang. Ditanya soal pembatasan yang diberlakukan Pemkab Malang, Kharisma menyebut bahwa kebijakan tersebut tidak memengaruhi pendapatannya.
Apalagi jika dikaitkan dengan penggunaan pikap sebagai kendaraan pengangkut sound. Dia bisa menyewakannya dengan harga eceran. Senilai Rp 10 juta per unit, berisi tiga sampai empat subwoofer.
”Kalau sewa yang sampai 12 subwoofer banderolnya bisa Rp 30 juta,” ungkap dia.
Kharisma menyebut bahwa pemberlakuan pembatasan sound system biasanya menyesuaikan dengan jumlah peserta dan tempat pelaksanaan acara. ”Pakai truk atau fuso itu biasanya di jalan besar atau tempat terbuka yang cukup luas. Kalau dipaksa pakai pikap, peserta yang lain bisa tidak kedengeran,” ujar dia. Sementara bila aturan maksimalnya hanya boleh menggunakan pikap, biasanya peserta karnaval lebih sedikit. Rutenya melewati area permukiman warga yang cukup padat. (ori/mel/biy/by)
Editor : A. Nugroho